Senin, 07 Januari 2019

Jenis-Jenis Karya Sastra


Karya sastra dapat dibedakan menjadi
1.       Puisi
Puisi adalah jenis karangan yang dalam penyajiannya sangat mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna.  Jenis puisi berdasarkan jamannya :

a.       Puisi lama,  Merupakan puisi peninggalan sastra Melayu Lama. Terdiri atas puisi asli dan puisi pengaruh asing. Contoh :
1)    Pantun, Merupakan satu jenis karya sastra lama yang berbentuk puisi. Pantun mementingkan keindahan bahasa, kepadatan makna kata, serta bentuk penulisan yang berbait-bait. Ciri-ciri pantun :
a)    Satu bait terdiri dari 4 baris.                                         d)    Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.
b)    Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.    e)     Rima akhir berpola a-b-a-b
c)     Baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Sampiran pada sebuah pantun hanya sebagai pengantar untuk menyampaikan isi pantun. Syarat terpenting sebuah sampiran adalah jumlah baris, jumlah suku kata, dan persajakan yang terikat oleh aturan. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali tentang alam (flora dan fauna),  Dua baris terakhir merupakan isi, sebagai tujuan dari pantun tersebut
2)    Syair, Merupakan jenis puisi lama yang terikat aturan-aturan baku. Ciri-ciri syair :
a)    Setiap bait terdiri dari 4 baris.                                   d)    Semua barisnya merupakan isi.
b)    Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.               e)     Rima akhir berpola a-a-a-a
c)     Syair tidak memiliki sampiran.
3)    Mantra, Merupakan pusi yang mengandung kekuatan gaib yang diucapkan pada waktu dan temapt tertentu.
4)    Bidal, Merupakan pusi yang mengandung pebertian atau melukiskan sindiran, perbandingan serta kiasan. Termasuk dalam bidal adalah; peribahasa, pepatah, tamsil, peumpamaan, pameo, kata-kata arif.
5)    Talibun, Merupakan pantun panjang  yang terdiri dari 6, 8, atau 10 baris Jumalahnya harus selalu genap. Terdiri dari 8 – 12 suku kata, bersanjak a-b-c atau a-b-c-d.
6)    Karmina (pantun kilat), Merupakan pantun yang hanya terdiri atas 2 baris. Baris pertama merupakan sampiran, sedang isinya pada baris terakhir, bersajak; a-a. Contoh:
*      Dahulu parang sekarang besi                                      *      Gendang gendut tali kecapi
Dahulu sayang sekarang benci                                           Kenyang perut senanglah hati
7)    Seloka (pantun berkait):
*      Tiap-tiap bait terdiri atas 2 baris.
*      Tiap-tiap baris terdiri atas 16 suku kata dan merupakan 2 potong kalimat, setiap baris ada 2 X 8 suku kata.
*      Biasanya berisi pelajaran, naihat atau petuah
*      Isi bait yang satu dengan  berikutnya saling berhubungan
*      Tidak terikat olek sajak akhir
8)    Gurindam (perhiasan/bunga); bentuk kesusastraan lama yang berasal dari kesusatraan tamil (India bagian Selatan):
*      Tiap-tiap bait terdiri atas 2 baris.
*      Tiap-tiap baris terdiri atas 10 - 14 suku kata dan merupakan 2 potong kalimat
*      Biasanya berisi pelajaran, naihat atau petuah
*      Sajaknya berumus a-a
b.     Puisi Baru (Puisi terikat) yaitu puisi yang terikat oleh aturan-aturan bait, baris, dan rima. Merupakan pusi yang lahir pada tahun dua puluhan Terdiri atas :
1)    Distichon       à  sajak dua seuntai
2)    Terzina          à  sajak tiga seuntai
3)    Quatrain        à  sajak empat seuntai
4)    Quint              à  sajak lima seuntai
5)    Sektet             à  sajak enam seuntai
6)    Setpima         à  sajak tujuh seuntai
7)    Stanza           à  sajak delapan seuntai
8)    Soneta           , merupakan bentuk puisi yang berasal dari Italia sering digunakan untuk menyatakan curahan hati. Masuknya sonata ke Indonesia dimulai pada zaman Punjangga Baru. Pelopor sonata adalah Mohammad Yasin dan Rustam Efendi
Ciri-ciri sonata :
a)       Terdiri dari 14 baris.                                                               c)     Oktaf sebagai sampiran.
b)       Terbagi atas 2 quatrain (oktaf) dan 2 terzina (sektet).   d)    Sektet merupakan kesimpulan.
c.     Puisi Modern (puisi bebas), mulai berkembang di Indonesia sejak zaman Jepang atau zaman Angkatan 45. Pelopor puisi modern adalah Chairil Anwar. Tidak terikat aturan-aturan rima, baris, ataupun bait. Merupakan curahan jiwa bebas lepas tak terikat aturan apapun, mementingkan ketajaman dan kepadatan isi yang dikandung. Jenis-jenis puisi modern :
1)  Romansa, (curahan cinta)                                4)  Epigram, (slogan, semboyan membangkitkan semangat)
2)  Elegi  , (sanjungan kepada tokoh/pahlawan)        5)  Satire, (sindiran atau kritik)
3)  Himne, (doa dan pujian kepada Tuhan)       6)  Balada, (kisah atau cerita)
d.     Puisi Kontemporer
Merupakan puisi yang menonjolkan bentuk puisi yang berbeda dengan puisi lama ataupun puisi baru. Tokoh puisi kontenporer adalah Sutardji Calzoum Bachri. Yang termasik puisi konteporer, antara lain:
1)       Puisi Grafis, merupakan puisi yang memnentingkan bentuk visual.
2)       Puisi Mbeling,
3)       Puisi Mantra, yang mementingkan bunyi daripada kata-kata..
Unsur-unsur puisi
Secara umum unsur-unsur puisi dibedakan atas:
  1. Unsur fisik (bentuk Lahir):
1)       Rima / persanjakaan; pengulangan-pengulangan bunyi            4)    Diksi / pilihan kata
2)       Ritma Pengulangan-pengulangan tekanan dan perhentian       5)    Imajeri / daya bayang
3)       Majas / gaya bahasa
  1. Unsur Batin:
1)    Tema                                                        3)    Nada
2)    Rasa                                                         4)    Amanat
Beberapa unsur yang terdapat dalam puisi. Unsur-unsur tersebut antara lain sebagai berikut:
a.     Bunyi:
1)    Asonansi adalah persamaan bunyi vokal pada setiap akhir kata.  Aliterasi adalah persamaan konsonan pada setiap akhir kata.
2)    Rima awal / akhir adalah persamaan bunyi atau persajakan di awal atau di akhir kata.
3)    Persajakan horizontal adalah persamaan bunyi dalam satu larik atau satu baris. Persajakan vertikal adalah persamaan bunyi dalam larik atau baris yang berbeda.
b.     Pilihan kata;
1)    Pengimajian adalah pencitraan untuk mengkonkretkan gambaran ide, gagasan, dan pikiran melalui penginderaan.
2)    Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud membangkitkan imaji pembaca.
a)    pembaitan (bait-bait), adalah menyusun larik-larik dalam bait-bait sesuai dengan makna yang dikandung setiap bait.
b)    pelarikan (larik-larik) adalah menyusun kata-kata dalam lariklarik.
c)     tipografi adalah bahasa puisi yang ditulis dalam bentuk-bentuk bait atau bentuk-bentuk lain yang unik yang membedakan antara bentuk puisi dengan bentuk karya sastra yang lain.
d)    Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut atau dampak psikologis pembaca yang muncul setelah membaca puisi, misalnya perasaan haru, sedih, bahagia, bersemangat, dan lain-lain.
e)     Nada adalah sikap penyair kepada pembacanya, misalnya menggurui, menasihati, mengejek, atau menyindir.
f)     Makna adalah maksud keseluruhan puisi yang dibangun oleh kata-kata, larik-larik, dan bait-bait.
c.     Tanda-tanda pembacaan sebagai rambu-rambu pola intonasi, tempo, atau jeda, dan aksentuasi (tekanan).
/       =      jeda pendek
//     =      jeda sedang
///    =      jeda panjang
- -    =      pengucapan kata dengan pemberian aksentuasi (tekanan tertentu)
==   =      jangan dipenggal karena akan menimbulkan makna ganda
        =      langsung pada baris berikutnya
        =      intonasi naik
        =      intonasi turun
2.       Prosa
Prosa adalah karya yang tidak terikat oleh aturan-aruran sebagaimana puisi. Karangan prosa ditandai oleh bahasa yang terurai. Menurut zamannya prosa dapat dibedakan menjadi:
a.       Prosa Lama
Yang termasuk prosa lama adalah dongeng,  hikayat, cerita-cerita berbingkai. Ciri-ciri  proasa lama antara lain:
1)       Isinya fantastis (khayal).                                                4)       Berisi cerita tentang raja-raja (istanasentris)
2)       Pengarangnya anonim (tidak dikenal).                        5)       Milik bersama
3)       Pola ceitanya monoton.
Dongeng
Dongeng merupakan cerita fiksi atau cerita rekaan. Arti fiksi atau rekaan adalah cerita yang direka-reka atau dibuat-buat dan belum tentu benar keberadaannya. Misalnya, tempat, waktu, pelaku, kejadian yang belum tentu ada. Ada beberapa jenis dongeng,
1)    Dongeng Binatang atau Fabel adalah dongeng yang mengandung pendidikan tentang perbuatan baik dan buruk. Tokoh fabel adalah binatang. Semua binatang tersebut berperilaku sebagai manusia dan menggambarkan watak serta budi pekerti manusia, misalnya:
*      Dongeng kancil dengan buaya
*      Dongeng kancil mencuri timun
2)    Dongeng Biasa adalah dongeng tentang tokoh yang mengalami suka dan duka. Cerita dongeng biasa dapat kita temui dalam cerita Bawang Putih Bawang Merah.
3)    Dongeng Lelucon adalah dongeng lucu tentang tokoh tertentu, misalnya Si Kabayan dari Jawa Barat, Lebai Malang dari Melayu, Pan Balangtamak dari Bali, dan Singa Rewa dari Kalimantan Tengah.
4)    Sage; merupakan dongeng yang mengandung unsur sejarah, misalnya:
*      Sejarah Melayu (Sulalatusalatina), disusun oleh Mahmud Tun Sri Lanang (1912)
*      Hikayat Hang Tuah
5)    Didaktik, merupakan dongeng yang berisi pendidikan.
6)    Legenda; Dongen yang menceritakan asal mulanya suatu tempat, gunung , peristiwa dan sebagainya, misalnya:
7)    Mythe; Dongeng tentang dewa-dewi, misalnya:
b.       Prosa baru
Yang termasuk prosa baru adalah Novel, cerpen, biografi, otobiografi, kisah perjalanan. Ciri-ciri prosa baru, antara lain:
1)       Isinya berisikan fakta kehidupan nyata                4)    Merupakan milik perseorangan
2)       Ada nama si pengarang                                             5)    Pola ceritanya tidak monoton
3)       Masyarakat sentris
Novel
Novel, merupakan cerita yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dari kehidupan pelakunya yang dapat menyebabkan perubahan sikap hidup atau menentukan nasibnya, misalnya:
·             Aki (Idrus)
·             Jalan Lain ke Roma (Idrus)
Tokoh-tokoh dalam novel terdiri atas:
1)    Tokoh protagonis adalah tokoh yang memiliki sifat baik yang mendukung jalannya cerita, tokoh protagonis mampu mendatangkan simpati dari pembaca.
2)    Tokoh antagonis merupakan kebalikan dari tokoh protagonis, yaitu tokoh yang menentang arus cerita., tokoh ini akan menimbulkan kebencian dan antipati dari pembaca.
Cara Menampilkan Watak Tokoh dalam Novel
1)    melalui pelukisan terhadap keadaan sekitar pelaku            5)    penggambaran secara langsung
2)    secara langsung dengan diperindah                                         6)    melalui analisis psikis pelaku
3)    melalui pernyataan atau perkataan tokoh itu sendiri          7)    melalui dialog pelaku-pelakunya.
4)    melalui dramatisasi
Tiga Dimensi Watak
1)    Dimensi psikis (kejiwaan)                                  3)    Dimensi sosiologis
2)    Dimensik fisik (jasmaniah)
Roman
Roman, merupakan cerita tentang kehidupan seseorang  atau keluarganya meliputi kehidupan batin dan fisik.  Menurut isinya roman dapat dikelompokkan menjadi:
1)    Roman Sejarah; roman yang dasar ceritanya diambil (berlatar belakang) dari sejarah, misalnya:
*      Hulubalang Raja (Nur Sutan Iskandar)
*      Tambera (Utuj Tatang Sontani)
2)    Roman Tendenz (roman bertujuan); roman yang mengandung maksud atau tujuan yang beasal dari faham atau idiologi pengarang dengan harapan pembaca akan mengambil tindakan (teladan) dari cerita tersebut, misalnya:
*      Siti Nurbaya (Marah Rusli)                                       *      Darah Muda (Adinegoro)
*      Salah Asuhan (Abdul Muis)                                      *      Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisyahbana)
3)    Roman Sosial (roman kemasyarakatan); roman yang melukiskan kejadian atau peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dengan segal suka dukanya, misalnya:
*      Kasih Ibu (Paulus Supit)                                    *      Sukreni Gadis Bali (I Gusti Nyoman Panji Tisna)
*      Kehilangan Mustika (Hamidah)                      *      Si Cebol Ridukan Bulan (Aman Datuk Modjoindo)
4)    Roman Psycologi (roman jiwa); roman yang berisi kupasan tentang; bakat, watak, karakter para pelakunya beserta kemungkinan-kemungkinan perkembangan jiwanya, misalnya:
*      Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur Sutan Iskandar)          *      Atheis (Achdiat Kartamiharja)
5)    Roman Detektif; roman yang melukiskan sara mnyelesaikan suatu peristia kejadian atau masalah kejahatan, misalnya:
*      Percobaan Setia (Suman H.S.)                                 *      Mencari Pencuri Anak Perawan (Suman H.S.)
6)    Roman Ilmu pengetahuan; roman yang dasar ceritanya diambil (berlatar belakang) suatu teori, tekhnik, pendapat atau ilmu pengetahuan, misalnya:
*      Palawija (Karim)
Biografi
Biografi berarti cerita tentang hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain, msalnya:
·             Ayahku (Hamka)
·             Dr. Soetomo  (Imam Supardi)
Autobiografi
Autobiografi, merupakan cerita tentang hidup seseorang yang ditulis sendiri oleh pengarangnya, misalnya:
·         Hikayat Abdullah (Abdullah bin Abdul Kadir Munsji)
·         Kenang-kenangan hidup (Hamka)
Cerpen
Cerita Pendek, merupakan cerita yang hanya menceritakan salah satu peristiwa daripada seluruh kehidupan yang luas tentang pelakunya, misalnya:
·         Radio Masyarakat (Rosihan Anwar)
·         Ketika Cinta Bertasbih (Habiburrahman El Shirazy)
Kisah Perjalanan
Kisah (riwayat) Perjalanan, merupakan cerita tentang pengalaman hidup seseorang dalam perjalanan atau lawatannya ke suatu daeah atau negara, misalnya:
·         Melawat Ke Barat (Adinegoro)
·         Mandi Cahaya Di Tanah Suci (Hamka)
Unsur-unsur prosa:
  1. Tema; pokok persoalan yang menjiwai karya sastra, misalnya kawin paksa.
  2. Amanat; himbauan pengarang melalui karyanya
  3. Gaya bahasa; ciri bahasa yang digunakan, misalnya berbelit-berlit, lucu, segar dan lain sebagainya.
  4. Setting; latar belakang pengisahan/adegan, misalnya daerah perkotaan, pedesaan, masa revolusi, dan lain sebagainya.
  5. Sudut pandang; terlibat / tidaknya si penulis dalam karyanya.
3.       Drama
Drama adalah karya sastra dalam bentuk dialog yang dipertontonkan di atas pentas oleh tokoh-tokoh dengan watak masing-masing. Drama dapat dibedakan atas:
a.       Drama Komedi                                                                                 c.      Drama Romantis
b.       Drama Tragedi                                                                                 d.     Opera
Agar memperoleh manfaat dari sebuah drama:
a.     membaca teks drama dengan cermat
b.     menganalisis unsur intrinsik, yang meliputi:
1)     penokohan dan wataknya                                                    4)         tema cerita
2)     latar cerita                                                                                5)         amanat / pesan pengarang
3)     alur
c.              Aspek-aspek pementasan drama yang perlu dinilai:
1)     kemampuan pemain melisankan naskah drama,
2)     kesesuaian dialog dan akting pemeran dengan watak tokoh yang diperankan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis naskah drama:
a.     cermat dalam menangkap dan menggali ide, imajinasi, emosi yang nyata dan masuk akal,
b.     konflik bisa berangkat dari persoalan diri sendiri,
c.     konflik dirumuskan dengan cara mengamati lingkungan sekitar, dan mengamati tayangan film, sinetron, dan sebagainya.
Di dalam bermain peran pada pementasan drama, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a.     mempersiapkan diri secara matang dan serius sebelum tampil,
b.     pilihlah teks drama yang sesuai dengan keinginan kelompok,
c.     diskusikan teks naskah drama yang akan dipentaskan, mengenai tema, tokohtokoh dan watak-wataknya agar bisa menghayati peran,
d.     casting (penentuan pemeran) dengan jeli dan tepat,
e.     berlatih secara menyeluruh, meliputi membaca, membaca dengan penjiwaan, melatih gerakan-gerakan, dan penguasaan pentas.
f.     siapkan unsur pendukung, di antaranya musik, lampu, dekorasi
Tanggapan/kritik terhadap penampilan seseorang, mencakup:
a.     penampilan fisik                                                                              c.         lagu
b.     ucapan                                                                                               d.         penggunaan bahasa
Hal-hal yang perlu dinilai dalam mengevaluasi pemeranan tokoh drama:
a.     karakter, ekspresi                                                                             c.         dialog
b.     penampilan
Kerangka naskah drama berfungsi untuk pedoman agar cerita drama tidak menyimpang dari tema. Langkah membuat kerangka:
a.     membuat kerangka naskah dengan urutan yang runut dari awal sampaiakhir cerita,
b.     latar dan catatan lakon bisa dituliskan untuk memudahkan pementasan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis naskah drama dengan memerhatikan kaidah penulisan naskah drama:
a.     memerhatikan pemilihan kata dan panjang pendeknya kata-kata dalam dialog,
b.     dialog seharusnya memiliki keindahan bahasa,
c.     adanya nama-nama pelaku, latar/setting,
d.     urutan dialog dengan nama-nama pemain,
e.     pencantuman tanda baca koma ( , ), titik ( . ), tanda tanya ( ? ) pada tempatnya,
f.     keterangan dalam kurung sebagai catatan lakon,
g.     penggunaan bahasa yang jelas.
Langkah-langkah Mengubah Cerpen Menjadi Teks Drama
a.     Menghayati tema cerpen. Tema merupakan ide pokok yang mendasari penarasian sebuah cerita.
b.     Cerpen dibagi menjadi beberapa bagian penting dan kemudian diubah menjadi babak.
c.     Menyusun dialog berdasarkan konflik yang terjadi antartokoh.
d.     Membuat deskripsi-deskripsi untuk menjelaskan latar, akting atau lighting.

Aliran-aliran sastra
Cara pengungkapan pikiran dan perasaan pengarang memalui karyanya berbeda-beda. Dari sudar pandang inilah dapat kita ketahui bermacam-macam aliran dalam kesustraaan, antara lain:
1.       Aliran Realisme; aliran yang beusaha melukiskan keadaan seperti apa adanya. Misalnya; Surabaya (Idrus).
2.       Aliran naturalisme; aliran realisme yang cenderung pada hal-hal mesum / buruk.
3.       Aliran Determinisme; Akiran realisme yang melukiskan para pelakunya atas dasar paksaan nasib atauu ketidakberdayaan manusia terhadap lingkungan, penderitaan dan sebagainya, misalnya; Belenggu (Armijn Pane).
4.       Aliran Impresionisme; Aliran yang berusaha melukiskan kembali kesan-kesan seseorang terhadap fenomena kehidupan, biasanya hanya sepintas dan tidak mendetil, misalnya; Teratai (sanusi Pane).
5.       Alran Romantik; aliran yang mengutamakan perasaan. Pengarang dalam pelukisannya cenderung berlebihan. Kalau bahagia kelewat bahagia, kalau sedih kelewat sedih kalau yang dilukiskan cantik kelewar cantik ranpa cela, misalnya; Surat Cinta (Rendra).
6.       Aliran Idealisme; aliran yang berusaha melukiskan sesuatu berdasakan ide atau gagasan pengarang. Misalnya; Layar Terkembang ( sutan Takdir).
7.       Aliran Psikologis; merupakan aliran yang menirik beratkan pelukisan kejiwaan / hal-hal yang bersifat non fisik, misalnya; Merahnya Merah (Iwan Simatupang), Atheis (Achdiat K.M.), Jalan Tak Ada Ujung (M. Lubis), dll.
8.       Aliran Simbolik merupakan aliran yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan lambang-lambang, misalnya; Tinjaulah Dunia Sana (Maria Amin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar