Senin, 07 Januari 2019

Perjuangan Melawan Penjajahan


Bangsa Belanda sampai ke Indonesia pada tanggal 22 Juni 1596. Armada Belanda berhasil mendarat di Banten, Jawa Barat.  Bangsa Belanda berubah menjadi serakah dan kasar. Sikap itu menyebabkan mereka dimusuhi dan diusir dari Banten.
Dua tahun setelah kedatangan pertama, bangsa Belanda datang lagi ke Indonesia. Kali ini mereka bersikap baik dan ramah.  Untuk menghindari pertikaian yang lebih parah pada tanggal 20 Maret 1602 dibentuk Perkumpulan Dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). 

Mula-mula kegiatan VOC hanya berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan VOC berusaha menguasai perdagangan (monopoli). Untuk mewujudkan maksud itu VOC membentuk tentara, mencetak mata uang sendiri, dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat. Di Maluku VOC melakukan Pelayaran Hongi (patroli laut) untuk mengawasi rakyat Maluku agar tidak menjual rempah-rempah mereka kepada pedagang lain.
Pusat-pusat perdagangan yang dikuasai VOC adalah Ambon, Jayakarta, dan Banda. Pusat perdagangan Jayakarta direbut Belanda pada masa Gubernur Jenderal J.P. Coen. Ia mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.
Pada Tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. VOC dibubarkan Karena:
1.     Pejabat-pejabat VOC melakukan korupsi dan hidup mewah.
2.     VOC menanggung biaya perang yang sangat besar.
3.     Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.
4.     Para pegawai VOC melakukan perdagangan gelap.
Pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Semua hutang VOC ditanggung oleh Kerajaan Belanda.
Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte berhasil menaklukkan Belanda. Ia mengangkat Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal di Batavia. Untuk menahan serangan Inggris, Daendels melakukan tiga hal, yaitu:
1.     menambah jumlah prajurit,
2.     membangun pabrik senjata, kapal-kapal baru, dan pos-pos pertahanan,
3.     membangun jalan raya yang menghubungkan pos satu dengan pos lainnya.
Daendels memberlakukan kerja paksa tanpa upah untuk membangun jalan. Kerja paksa ini dikenal dengan nama kerja rodi. Rakyat dipaksa membangun Jalan Raya Anyer-Panarukan yang panjangnya sekitar 1.000 km. Jalan ini juga dikenal dengan nama Jalan Pos.
Pada tahun 1811, Daendels dipanggil ke Belanda. Ia digantikan oleh Gubernur Jenderal Janssens. Saat itu pasukan Inggris berhasil mengalahkan Belanda di daerah Tuntang, dekat Salatiga, Jawa Tengah. Gubernur Jenderal Janssens terpaksa menandatangani Perjanjian Tuntang yang isinya:
1.     Seluruh wilayah jajahan Belanda di Indonesia diserahkan kepada Inggris.
2.     Adanya sistem pajak/sewa tanah.
3.     Sistem kerja rodi dihapuskan.
4.     Diberlakukan sistem perbudakan.
Inggris berkuasa di Indonesia selama lima tahun (1811-1816). Pemerintah Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia. Pemerintah memberlakukan sistem sewa tanah yang dikenal dengan nama landrente.
Pada tahun 1816, Inggris menyerahkan wilayah Indonesia kepada Belanda. Pemerintah Belanda menunjuk Van Der Capellen sebagai gubernur jenderal. Pada tahun 1830, Van Der Capellen diganti Van Den Bosch.
Bosch mendapat tugas mengisi kas Belanda yang kosong. Ia memberlakukan tanam paksa atau cultuur stelsel untuk mengisi kas pemerintah yang kosong. Van Den Bosch membuat aturanaturan untuk tanam paksa sebagai berikut:
1.     Rakyat wajib menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa.
2.     Tanah yang dipakai untuk tanamam paksa bebas dari pajak.
3.     Hasil tanaman diserahkan kepada Belanda.
4.     Pekerjaan untuk tanam paksa tidak melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
5.     Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan Belanda.
6.     Rakyat Indonesia yang bukan petani harus bekerja 66 hari tiap tahun bagi pemerintah Hindia Belanda.
Tanam paksa mengakibatkan penderitaan luar biasa bagi rakyat Indonesia Hasil pertanian menurun. Rakyat mengalami kelaparan. Akibat kelapara banyak rakyat yang mati. Max Havelaar menceritaka penderitaan bangsa Indonesia sewaktu dilaksanakan tanam paksa.
Monopoli perdagangan, kerja paksa, penarikan pajak, sewa tanah, dan tanam paksa menimbulkan banyak kerugian dan membuat sengsara rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia tidak tahan lagi. Rakyat Indonesia melakukan perlawanan memperjuangkan martabat dan kemerdekaannya. Perlawanan terhadap VOC, antara lain:
1.     Perang Sultan Agung (1628-1629)                                      7.     Perang Bali (1837)
2.     Perang Makasar (1654-1669)                                              8.     Perang Banjar (1854-1863)
3.     Perang Trunojoyo (1674-1680)                                           9.     Perang Aceh (1873-1904)
4.     Perang Untung Suropati (1686-1706)                                 10.   Perang Si Singamangaraja (1878-1907)
5.     Perang Maluku (1817)                                                           11.   Perang Lombok (1894)
6.     Perang Diponegoro (1825-1830)                                          12.   Perang Paderi (1921-1837)
Dalam Perang Dunia II (1939-1945), Jepang bergabung dengan Jerman dan Italia melawan Sekutu. Pada tanggal 8 Desember 1941 pasukan Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour (Hawai). Terjadilah Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya.
Tanggal 1 Maret 1942 pasukan Jepang berhasil mendarat di tiga tempat secara serempak di Pulau Jawa, yaitu di Teluk Banten, Eretan Wetan (Pantura), dan Pasuruan (Jawa Timur). Tanggal 5 Maret 1942 pasukan Jepang sudah berhasil menguasai Batavia. Tanggal 8 Maret 1942 Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Letjen Ter Poorten atas nama Angkatan Perang Sekutu menyerah tanpa syarat kepada Angkatan Perang Jepang yang dipimpin Letjen Hithoshi Imamura. Upacara serah terima ditandatangani di Kalijati, Subang, Jawa Barat.
Ada beberapa alasan Jepang menduduki Indonesia, antara lain ;
1.     Indonesia kaya akan bahan-bahan mentah, seperti minyak bumi dan batu bara.
2.     Wilayah Indonesia menghasilkan banyak produksi pertanian yang dibutuhkan tentara Jepang dalam peperangan.
3.     Indonesia memiliki tenaga manusia dalam jumlah besar yang diperlukan untuk membantu perang Jepang.
Jepang berusaha menarik simpati rakyat Indonesia. Ada tiga hal yang dilakukan Jepang, yaitu:
1.     mengijinkan mengibarkan bendera Merah Putih;
2.     mengijinkan rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya;
3.     larangan menggunakan bahasa Belanda dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa pergaulan sehari-hari diganti dengan bahasa Indonesia.
Propaganda yang dilancarkan Jepang itu berisi:
1.     Jepang pemimpin Asia                     2.     Jepang pelindung Asia                      3.     Jepang cahaya Asia.
Penderitaan rakyat Indonesia selama masa penjajahan Jepang antara lain:
1.     Jepang merampas hasil pertanian rakyat, seperti padi dan jagung untuk persediaan makanan pasukan Jepang. Akibatnya, rakyat tidak punya cukup makanan dan kelaparan.
2.     Pemerintah Jepang sangat ketat melakukan pengawasan terhadap pemberitaan. Media masa disegel.
3.     Jepang juga memanfaatkan rakyat Indonesia untuk diperas tenaganya bagi keperluan Jepang. Para pekerja paksa pada zaman Jepang disebut romusha. Banyak barisan dibentuk untuk kepentingan Jepang, seperti:
a.     Seinendan (barisan pemuda),                                      e.     Jibakutai (Barisan Berani Mati),
b.     Keibodan (Barisan Pembantu Polisi),                         f.      Gakutotai (Barisan Pelajar),
c.     Fujinkai (Barisan Wanita),                                           g.     Peta (Pembela Tanah Air).
d.     Suishintai (Barisan Pelopor),
4.     Banyak wanita Indonesia yang terpaksa melayani nafsu bejat pasukan Jepang.
Penderitaan lahir batin yang dialami rakyat Indonesia selama pendudukan Jepang di Indonesia menimbulkan rasa benci dan pemberontakan di berbagai wilayah Indonesia. Pemberontakan-pemberontakan itu antara lain:
1.     Perlawanan rakyat Aceh di Cot Plieng tahun 1942, dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil.
2.     Perlawanan di Kaplongan, Jawa Barat
3.     Perlawanan di Lohbener, Jawa Barat
4.     Perlawanan di Pontianak, Kalimantan Barat 16 Oktober 1943
5.     Perlawanan Peta di Gumilir, Cilacap, Juni 1945, dipimpin oleh Kusaeri
6.     Perlawanan di Singaparna, Jawa Barat, dipimpin oleh Kiai Haji Zainal Mustafa
7.     Perlawanan Peta di Blitar, Jawa Timur di bawah pimpinan Shodanco F.X. Supriyadi.
Perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah tidak hanya dilakukan dengan kekuatan fisik, tetapi juga melalui organisasi. Putera-putera bangsa Indonesia, mulai sadar perlunya organisasi modern untuk perjuangan kemerdekaan. Selain itu, tumbuh juga kesadaran perlunya persatuan dari rakyat Indonesia untuk mengusir penjajah. Tokoh-tokoh pergerakan tersebut:
1.     Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika                               4.     Ahmad Dahlan
2.     Ki Hajar Dewantara                                                               5.     Wahid Hasyim
3.     Dr. Sutomo                                                                               6.     Samanhudi
Pada tanggal 2 Mei 1926 diadakan rapat besar pemuda Indonesia yang dikenal dengan nama Kongres Pemuda I. Rapat besar itu dihadiri oleh wakil-wakil dari organisasi-organisasi pemuda, seperti; Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Islamiten, Jong Bataks Bond, dan lain-lain. Kongres Pemuda I dipimpin oleh Muhammad Tabrani. Tujuan Kongres Pemuda I ialah membentuk perkumpulan pemuda yang tunggal. Tujuannya untuk:
1.     Memajukan paham persatuan dan kebangsaan.
2.     Mempererat hubungan antara semua perkumpulan kebangsaan.
Kongres pemuda II dilaksanakan pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928. Kongres pemuda II dihadiri sekitar 750 peserta utusan dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Pemuda Betawi, Sekar Rukun, dan lain-lain.  W.R. Supratman, seorang wartawan membawakan lagu ciptaannya yang berjudul Indonesia Raya. W.R. Supratman membawakan lagu ciptaannya dengan gesekan biola. Kongres Pemuda II menghasilkan keputusan yang sangat penting dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Isi Sumpah Pemuda adalah:
1.     Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2.     Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3.     Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Berkat Sumpah Pemuda itu, arah perjuangan bangsa Indonesia menjadi semakin tegas, yaitu mencapai kemerdekaan tanah air Indonesia. Untuk mencapai kemerdekaan tersebut, bangsa Indonesia memandang perlu adanya rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

Perjuangan Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia
Pada tanggal 1 Maret 1945, Pemerintah Militer Jepang di Jawa, Kumakici Harada, mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Zumbi Coosakai.
BPUPKI resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945, bertepatan dengan ulang tahun kaisar Jepang. Tanggal 28 Mei 1945, diadakan upacara pelantikan dan sekaligus upacara pembukaan sidang pertama BPUPKI di gedung Chuo Sangiin (Gedung Pancasila sekarang).
BPUPKI bertugas mempelajari dan meneyelidiki hal-hal penting untuk mendirikan Indonesia merdeka. BPUPKI diketuai oleh Dr. K.R.T Rajiman Wedyodiningrat. BPUPKI mengadakan dua kali masa sidang resmi:
a.     Sidang resmi pertama berlangsung lima hari, yaitu 28 Mei sampai 1 Juni 1945. Pada masa sidang resmi pertama ini, dibahas dasar negara. Masa sidang pertama BPUPKI ini dikenang dengan sebutan detik-detik lahirnya Pancasila.
b.     Sidang resmi kedua berlangsung tanggal 10-17 Juli 1945. Sidang ini membahas bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, rancangan undang-undang dasar, ekonomi dan keuangan, pembelaan negara, pendidikan dan pengajaran.
Selama masa ini, dengan sungguh-sungguh memikirkan bentuk negara yang akan segera berdiri. BPUPKI akhirnya menghasilkan Rancangan Undang-Undang Dasar 1945.
PPKI dibentuk setelah BPUPKI menyelesaikan tugasnya pada 7 Agustus 1945. PPKI diketuai oleh Ir. Sukarno. Lembaga ini bertugas mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan masalah ketatanegaraan bagi Indonesia baru. PPKI melakukan beberap kali persidangan. Hasil persidangan PPKI, antara lain:
1.     Sidang pertama dilaksanakan tanggal 18 Agustus 1945, di Gedung Kesenian Jakarta. Pada sidang ini dihasilkan beberapa keputusan penting, yaitu:
a.     mengesahkan UUD1945 setelah mendapat beberapa perubahan pada pembukannya,
b.     memilih presiden dan wakil presiden, yakni Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta,
c.     menetapkan bahwa Presiden untuk sementara waktu akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
2.     Sidang kedua dilakukan pada hari berikutnya, tanggal 19 Agutus 1945. Sidang hari kedua ini menghasilkan keputusan:
a.     membentuk 12 departemen dan sekaligus menunjuk pemimpinnya (menteri),
b.     menetapkan pembagian wilayah negara Republik Indonesia menjadi delapan provinsi dan sekaligus menunjuk gubernurnya,
c.     memutuskan agar tentara kebangsaansegera dibentuk.
3.     Sidang ketiga (20 Agustus 1945) PPKI membahas tentang Badan Penolong Keluarga Korban Perang. Sidang ketiga PPKI menghasilkan delapan pasal ketentuan. Salah satu pasalnya, yakni pasal 2 berisi tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR).
4.     Sidang keempat dilakukan pada tanggal 22 Agustus 1945 membahas tentang:
a.     Komite Nasional
b.     Partai Nasional
c.     Badan Keamanan Rakyat.
Pada tanggal 23 Agustus 1945, Presiden Sukarno dalam pidatonya menyatakan berdirinya tiga badan baru, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sejak dibentuknya lembaga-lembaga kenegaraan tersebut, berakhirlah tugas PPKI.
Bentuk negara dan dasar negara dibahas secara sungguh-sungguh oleh anggota BPUPKI dan PPKI. Banyak tokoh yang mengusulkan bentuk negara. Selain itu, ada tiga tokoh yang mengusulkan dasar negara, yaitu Mohammad Yamin, Supomo, dan Sukarno. Nama “Pancasila” untuk dasar negara diusulkan oleh Ir. Sukarno.
Rumusan dasar negara, Pancasila, terdapat dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945. Rumusan itu bukan rumusan dasar Negara yang diusulkan Mohammad Yamin, Supomo, maupun Sukarno. Rumusan dasar negara dalam Pembukaan UUD 1945 berbunyi:
1.     Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.     Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3.     Persatuan Indonesia.
4.     Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
5.     Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hal-hal yang menjadi alasan mengapa suatu dasar negara perlu dirumuskan, antara lain:
1.     Nilai-nilai kepribadian bangsa perlu dirumuskan secara resmi.
2.     Negara memerlukan dasar untuk melangkah maju.
Panitia Sembilan menghasilkan suatu rumusan pembukaan UUD yang menggambarkan maksud dan tujuan pembentukan negara Indonesia Merdeka. Rumusan itu disepakati dan ditandatangani bersama oleh anggota Panitia Sembilan. Rumusan Panitia Sembilan itu kemudian diberi nama Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.
Berikut ini akan dibahas beberapa tokoh persiapan kemerdekaan, yaitu:
a.     Ir. Sukarno (1901-1970)                                                                            d.     Mohammad Hatta (1902-1980)
b.     Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat (1879-1952)                             e.     Muhammad Yamin (1903 - 1962)
c.     Prof. Dr. Mr. Supomo (1903-1958)                                                          f.      Ahmad Subarjo (1896-1978)
Sikap positif tokoh-tokoh bangsa yang patut kita contoh antara lain:
1.     Rela berjuang demi bangsa dan negara.
2.     Berpendirian tetapi juga menghormati pendapat orang lain. Para tokoh bangsa terkenal memegang teguh pendapat dan memperjuangkan pendapatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar