Pemakaian Tanda Baca
1. Tanda Titik (.)
a. Tanda titik
dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya:
* Ayahku tinggal di Solo. * Biarlah mereka duduk di sana.
* Dia menanyakan siapa yang
akan datang. * Marilah kita mengheningkan cipta.
b. Tanda
titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar. Misalnya:
* a. * III. Departemen Dalam Negri
* B. Direktorat Jendral Agraria
* 1. Patokan
Umum
* 1.1 Isi Karangan * 1.2 Ilustrasi
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan
atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan
angka atau huruf.
c. Tanda
titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan
waktu.
Misalnya:
* pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat
35 menit 20 detik)
d. Tanda
titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan
jangka waktu. Misalnya:
* 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit,
20 detik) * 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
* 0.0.30 jam (30 detik)
e. Tanda
titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan
tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Misalnya:
* Siregar, Merari. 1920. Azab
dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
f. Tanda
titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misalnya:
* Desa itu berpenduduk 24.200
orang.
* Gempa yang terjadi semalam
menewaskan 1.231 jiwa.
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya:
* Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung. * Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
* Nomor gironya 5645678.
g. Tanda
titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala
ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya:
* Acara Kunjungan Adam Malik * Salah Asuhan
* Bentuk dan Kedaulatan (Bab I
UUD'45)
h. Tanda
titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat
atau nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
* Jalan Diponegoro 82 * Jakarta
(tanpa titik)
* 1 April 1985 (tanpa titik) * Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Atau:
* Kantor Penempatan Tenaga
(tanpa titik) * Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
* Jakarta (tanpa titik)
2. Tanda Koma (,)
a. Tanda koma
dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya:
* Saya
membeli kertas, pena, dan tinta.
* Surat biasa, surat kilat,
ataupun surat
khusus memerlukan perangko.
b. Tanda koma
dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. Misalnya:
* Saya
ingin datang, tetapi hari hujan. * Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak
Kasim.
c. Tanda koma
dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu
mendahului induk kalimatnya. Misalnya:
* Kalau
hari hujan, saya tidak akan datang. * Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya:
* Saya
tidak akan datang kalau hari hujan. * Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
* Dia
tahu bahwa soal itu penting.
d. Tanda koma
dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat
pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula,
meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya:
* ... Oleh karena itu, kita
harus berhati-hati. * ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.
e. Tanda koma
dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang
lain yang terdapat di dalam kalimat. Misalnya:
* O,
begitu? * Hati-hati, ya, nanti jatuh.
* Wah,
bukan main!
f. Tanda koma
dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
* Kata
Ibu, "Saya gembira sekali."
* "Saya gembira
sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."
g. Tanda koma
dipakai di antara
1)
nama dan alamat, 3)
tempat dan tanggal,
2) bagian-bagian
alamat, 4) nama tempat dan wilayah atau negeri yang
ditulis berurutan.
Misalnya:
* Surat-surat
ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
* Surabaya, 10 mei 1960
h. Tanda koma
dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar
pustaka. Misalnya:
* Alisjahbana,
Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
i. Tanda
koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya:
* W.J.S.
Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP
Indonesia, 1967), hlm. 4.
j. Tanda
koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk
membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya:
* B. Ratulangi,
S.E. * Ny. Khadijah, M.A.
k. Tanda koma
dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka. Misalnya:
* 12,5 m * Rp12,50
l. Tanda
koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya
* Guru
saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
* Di
daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
Bandingkan
dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
* Semua
siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
m. Tanda koma
dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat
pada awal kalimat. Misalnya:
* Dalam
pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang
bersungguh-sungguh.
* Atas
bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan
dengan:
* Kita
memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan
bahasa.
* Karyadi
mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
n. Tanda koma
tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang
mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda
tanya atau tanda seru. Misalnya:
* "Di mana Saudara
tinggal?" tanya Karim. * "Berdiri lurus-lurus!"
perintahnya.
3. Tanda Titik Koma (;)
a. Tanda
titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis
dan setara. Misalnya:
* Malam makin larut; pekerjaan
belum selesai juga.
b. Tanda
titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan
kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya:
* Ayah
mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal
nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran
"Pilihan Pendengar".
4. Tanda
Titik Dua (:)
a. Tanda
titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti
rangkaian atau pemerian. Misalnya:
Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja,
dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup
atau mati.
b. Tanda
titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang
mengakhiri pernyataan. Misalnya:
* Kita memerlukan kursi, meja,
dan lemari.
* Fakultas itu mempunyai
Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
c. Tanda
titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
* Ketua : Ahmad Wijaya * Sekretaris : S. Handayani
* Bendahara: B. Hartawan * Tempat Sidang : Ruang 104
d. Tanda
titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku
dalam percakapan. Misalnya:
* Ibu : (meletakkan
beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"
Amir
: "Baik, Bu." (mengangkat
kopor dan masuk)
Ibu
: "Jangan lupa. Letakkan
baik-baik!" (duduk di kursi besar)
e. Tanda
titik dua dipakai; di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan
ayat dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
nama kota dan
penerbit buku acuan dalam karangan.Misalnya:
* Tempo,
I (1971), 34:7
* Karangan
Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
5. Tanda Hubung (–)
a. Tanda
hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya:
Suku kata
yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya:
b. Tanda
hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan
bagian kata di depannya pada pergantian baris. Misalnya:
Akhiran
-i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
c. Tanda
hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya:
* anak-anak, * berulang-ulang,
* kemerah-merahan.
Angka 2
sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak
dipakai pada teks karangan.
d. Tanda
hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya:
* p-a-n-i-t-i-a * 8-4-1973
e. Tanda
hubung boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau
ungkapan, dan penghilangan bagian kelompok kata. Misalnya:
* ber-evolusi * tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial
* dua puluh lima-ribuan (20 x
5000)
Bandingkan dengan:
* be-revolusi * tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
* dua-puluh-lima-ribuan (1 x
25000)
f. Tanda
hubung dipakai untuk merangkaikan:
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap
Misalnya
* se-Indonesia, * se-Jawa Barat,
* hadiah ke-2, * tahun 50-an,
g. Tanda
hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa
asing. Misalnya:
* di-smash * pen-tackle-an
6. Tanda Pisah (—)
a. Tanda
pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar
bangun kalimat. Misalnya:
* Kemerdekaan
bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
b. Tanda
pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga
kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya:
* Rangkaian
temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah
mengubah persepsi kita tentang alam semesta.
c. Tanda
pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau
'sampai dengan'. Misalnya:
* 1910—1945 * tanggal 5—10 April 1970
* Jakarta—Bandung
Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung
tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.
7. Tanda Elipsis (...)
a. Tanda
elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Misalnya:
* Kalau begitu ... ya, marilah
kita bergerak.
b. Tanda
elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang
dihilangkan. Misalnya:
* Sebab-sebab kemerosotan ...
akan diteliti lebih lanjut.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai
empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk
menandai akhir kalimat. Misalnya:
* Dalam tulisan, tanda baca
harus digunakan dengan hati-hati ....
8. Tanda Tanya (?)
a. Tanda
tanya dipakai pada akhir tanya. Misalnya:
* Kapan ia berangkat? * Saudara tahu, bukan?
b. Tanda
tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang
disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya:
* Ia dilahirkan pada tahun 1683
(?).
* Uangnya sebanyak 10 juta
rupiah (?) hilang.
9. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya:
* Alangkah seramnya
peristiwa itu! * Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan
anak-istrinya!
* Bersihkan kamar
itu sekarang juga! * Merdeka!
10. Tanda Kurung ((...))
a. Tanda
kurung mengapit keterangan atau penjelasan. Misalnya:
* Bagian Perencanaan sudah
selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
b. Tanda
kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok
pembicaraan. Misalnya:
* Sajak
Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
* Keterangan
itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam
negeri.
c. Tanda
kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat
dihilangkan.
Misalnya:
* Kata
cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
* Pejalan
kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
d. Tanda
kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
* Faktor
produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
11. Tanda Kurung Siku ([...])
a. Tanda
kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu
menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah
asli. Misalnya:
* Sang Sapurba men[d]engar
bunyi gemerisik.
b. Tanda
kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.
Misalnya:
* Persamaan
kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman
35-38]) perlu dibentangkan di sini.
12. Tanda Petik ("...")
a. Tanda
petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau
bahan tertulis lain. Misalnya:
* "Saya belum siap,"
kata Mira, "tunggu sebentar!"
* Pasal 36 UUD 1945 berbunyi,
"Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
b. Tanda
petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
* Bacalah
"Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
* Karangan
Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA"
diterbitkan dalam Tempo.
* Sajak
"Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
c. Tanda
petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti
khusus. Misalnya:
* Pekerjaan
itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
* Ia
bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama
"cutbrai".
d. Tanda
petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya:
Kata Tono, "Saya juga minta satu."
e. Tanda baca
penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang
mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat
atau bagian kalimat.
Misalnya:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si
Hitam".
Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia
sendiri tidak tahu sebabnya.
Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu
ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
13. Tanda Petik Tunggal ('...')
a. Tanda
petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Misalnya:
* Tanya
Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
* "Waktu
kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa
letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
b. Tanda petik
tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Misalnya:
* feed-back → 'balikan'
14. Tanda Garis Miring (/)
a. Tanda
garis miring dipakai di dalam nomor surat
dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua
tahun takwim.
Misalnya:
* No. 7/PK/1973 * Jalan Kramat III/10
* tahun anggaran 1985/1986
- Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya:
* dikirimkan lewat darat/laut → (dikirimkan
lewat darat atau laut)
* harganya Rp25,00/lembar →
(harganya Rp25,00 tiap lembar)
15. Tanda Penyingkat (Apostrof) (')
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau
bagian angka tahun. Misalnya:
* Ali 'kan kusurati. → ('kan = akan) * Malam 'lah tiba. → ('lah = telah)
* 1 Januari '88 →
('88 = 1988
Ejaan
Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), ejaan ini diresmikan pemakaiannya
pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu
berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa
serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.
|
Indonesia (pra-1972)
|
Malaysia (pra-1972)
|
Sejak 1972
|
|
tj
|
ch
|
c
|
|
dj
|
j
|
j
|
|
ch
|
kh
|
kh
|
|
nj
|
ny
|
ny
|
|
sj
|
sh
|
sy
|
|
j
|
y
|
y
|
|
oe*
|
u
|
u
|
Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf
Miring
1. Huruf
Kapital atau Huruf Besar
a. Huruf kapital
atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
* Dia mengantuk. * Kita harus bekerja keras.
* Apa maksudnya? * Pekerjaan itu belum selesai.
b. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya:
* Adik
bertanya, "Kapan kita pulang?"
* "Kemarin
engkau terlambat," katanya.
c. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan
dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:
* Allah, Yang
Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
* Tuhan akan
menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
* Bimbinglah
hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
d. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan
yang diikuti nama orang. Misalnya:
* Sultan
Hasanuddin * Imam Syafii
* Haji
Agus Salim * Nabi Ibrahim
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang tidak diikuti nama orang. Misalnya:
* Dia baru saja
diangkat menjadi sultan.
* Tahun ini ia
pergi naik haji.
e. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama
orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi,
atau nama tempat. Misalnya:
* Wakil
Presiden Budiono * Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara
* Perdana
Menteri Nehru * Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
* Profesor Supomo
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti
nama orang, atau nama tempat.
Misalnya:
* Siapa gubernur
yang baru dilantik itu?
* Kemarin Brigadir
Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
f. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya:
* Amir
Hamzah * Wage Rudolf Supratman
* Dewi
Sartika * Halim Perdanakusumah
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama
sejenis atau satuan ukuran. Misalnya:
* mesin
diesel * 10 volt * 5 ampere
g. Huruf kapital
sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. Misalnya:
* bangsa
Indonesia * suku Sunda * bahasa Inggris
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang
dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya:
* mengindonesiakan
kata asing * keinggris-inggrisan
h. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa
sejarah. Misalnya:
* bulan
Agustus * hari Natal
* bulan
Maulid * Perang Candu
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai
sebagai nama.
Misalnya:
* Soekarno dan Hatta memproklamasikan
kemerdekaan bangsanya.
* Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya
perang dunia.
i. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama geografi. Misalnya:
* Asia
Tenggara * Kali Brantas
* Banyuwangi * Lembah Baliem
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur
nama diri. Misalnya:
* berlayar ke teluk * menyeberangi selat
* mandi di kali * pergi ke arah tenggara
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama
jenis. Misalnya:
* garam
inggris * kacang bogor
* gula
jawa * pisang ambon
j. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan
ketata-negaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Misalnya:
* Republik
Indonesia
* Majelis
Permusyawaratan Rakyat
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Misalnya:
* menjadi
sebuah republik * kerja sama antara pemerintah dan rakyat
* beberapa
badan hukum * menurut undang-undang yang berlaku
k. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat
pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
* Perserikatan
Bangsa-Bangsa * Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
* Yayasan
Ilmu-Ilmu Sosial * Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
l. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang
sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat
kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan
untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya:
* Saya telah
membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
* Bacalah majalah
Bahasa dan Sastra.
m. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
* Dr. = doktor * Prof. = profesor
* M.A. = master of arts * Tn. = tuan
n. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak,
ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan
pengacuan. Misalnya:
* "Kapan
Bapak berangkat?" tanya Harto. * "Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
* Adik
bertanya, "Itu apa, Bu?" * Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang
tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan. Misalnya:
* Kita harus
menghormati bapak dan ibu kita.
* Semua kakak dan
adik saya sudah berkeluarga.
o. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya:
* Sudahkah Anda tahu? * Surat Anda telah kami terima.
2. Huruf Miring
a. Huruf miring
dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
* majalah
Bahasa
dan Kesusastraan * surat
kabar Suara Karya
* buku Negarakertagama
karangan Prapanca
b. Huruf miring
dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata,
kata, atau kelompok kata. Misalnya:
* Huruf
pertama kata abad ialah a. * Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
* Bab ini tidak
membicarakan penulisan huruf kapital.
c. Huruf miring
dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing
kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Misalnya:
* Nama ilmiah buah
manggis ialah Carcinia mangostana.
* Politik divide
et impera pernah merajalela di negeri ini.
* Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi
'pandangan dunia'.
Catatan:
Dalam
tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi
satu garis di bawahnya.
Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai
untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan
angka Arab atau angka Romawi, antara lain:
Angka Arab
: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L
(50), C (100), D (500), M (1.000)
2. Angka digunakan
untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi, satuan waktu, nilai uang,
dan kuantitas. Misalnya:
* 0,5
sentimeter * 5 kilogram * 4 meter persegi
* 10
liter * 1 jam 20 menit * pukul
15.00
Catatan; tanda titik di sini
merupakan tanda desimal.
3. Angka lazim
dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
* Jalan Tanah Abang
I No. 15 * Hotel Indonesia, Kamar 169
4. Angka digunakan
juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya:
* Bab X, Pasal 5, halaman 252 * Surah Yasin: 9
5. Penulisan lambang
bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a. Bilangan
utuh. Misalnya:
* dua belas = 12 * dua puluh dua = 22
* dua ratus dua puluh dua = 222
b. Bilangan
pecahan Misalnya:
* setengah = ½ * tiga perempat = 3/4
* seperenam belas = 1/16 * tiga dua pertiga = 3 2/3
6. Penulisan lambang
bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut. Misalnya:
* Paku Buwono X * pada awal abad XX
* dalam kehidupan pada abad
ke-20 ini * lihat Bab II, Pasal 5
7. Penulisan lambang
bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti. Misalnya:
* tahun '50-an =
(tahun lima puluhan) * uang 5000-an = (uang lima
ribuan)
* lima
uang 1000-an = (lima
uang seribuan)
8. Lambang
bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf
kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam
perincian dan pemaparan.
Misalnya:
* Amir menonton drama itu
sampai tiga kali.
* Ayah memesan tiga ratus ekor
ayam.
* Kendaraan yang ditempah untuk
pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
9. Lambang bilangan
pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah
sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak
terdapat pada awal kalimat. Misalnya:
* Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
* Pak Darmo mengundang 250
orang tamu.
Bukan:
* 15 orang tewas dalam
kecelakaan itu.
* Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10. Angka yang
menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah
dibaca. Misalnya:
* Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman
250 juta rupiah.
* Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari
120 juta orang.
11. Bilangan tidak
perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam
dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya:
* Kantor kami mempunya dua
puluh orang pegawai.
* DI lemari itu tersimpan 805
buku dan majalah.
Bukan:
* Kantor kamu mempunyai 20 (dua
puluh) orang pegawai.
* Di lemari itu tersimpan 805
(delapan ratus lima)
buku dan majalah.
12. Jika bilangan
dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya:
* Saya lampirkan tanda terima
uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
* Saya lampirkan tanda terima
uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar