Senin, 07 Januari 2019

Makna, Ungkapan Dan Gaya Bahasa


Perubahan Makna
Makna kat dalam suatu bahasa tidaklah tetap, tetapi sellau berubah-ubah. Perubahan makna kata dapat dikelmpokan menjadi:
1.     Peyorasi (memburuk); pergesaran makna dengan arti baru yang lebih rendah, kurang terhormat dari arti dasarnya. Pemakaian kata-kata dengan pergeseran makna peyorasi biasanya dilatarbelakangi suatu rasa kejengkelan atau tidak suka terhadap objek yang dibicarakan, misalnya:

Kata
Makna semula
Makna sekarang
Perempuan
lawan jenis pria
lebih hormat daripada wanita
Bini
perempuan yang sudah dinikah
lebih rendah daripada istri
Bunting 
mengandung bayi/anak
lebih rendah daripada hamil

2.       Ameliorasi (membaik); kata-kata yang maknanya mengalami pergeseran makna menuju lebih baik, lebih halus, lebih terhormat, misalnya:
Kata
Makna semula
Makna sekarang
Wanita
lawan jenis pria
lebih hormat daripada perempuan
Putra
Anak laki-laki
lebih hormat daripada anak
Putri 
Anak perempuan
lebih hormat daripada anak
3.       Spesiakisai (menyempit); cakupan makna sekarang menjdi lebih sempit daripada makna semula, misalnya:
Kata
Makna semula
Makna sekarang
Sarjana
Orang pandai
Lulusan perguruan tinggi
Pembantu
Oarang yang membantu
Pelayan rumah tangga
Madrasah
sekolah
Sekolah agama

4.       Generealisasi (meluas); Cakupan makna sekarang menjadi lebih luas daripada makna sebelumnya, misalnya:
Kata
Makna semula
Makna sekarang
Bapak
Orangtua laki-laki
Semua laki-laki yang lebih tua / ditinggikan
Ibu
Orang tua perempuan
Semua permpuan  yang lebih tua / ditinggikan
Saudara
Mempunyai hubungan darah (kekerabatan)
Semua orang sederajat

5.       Asosiasi; peubahan/pergeseran makna karena persamaan sifat yang disebakan oleh pemakaian kata dalam konteks yang berbeda, misalnya:
Kata
Makna semula
Makna sekarang
Amplop
Sampul surat
Uang sogok atau suap
Bunga
kembang
Gadis cantik
Hijau
warna
Masih muda / belum berpengalaman

6.       Sinestesia; perubahan makna karena pertukaran tanggapan antara dua indra, misalnya:
*      Kata-katanya sangat pedas dikupingku. (pengecap ke pendengaran).
*      Sura penyannyi itu terdengar lembut. (peraba ke pendengaran).
1.     Makna konotasi (emotif) : makna tambahan terhadap makna dasarny berupa nilai rasa tertentu, misalnya perasaan hormat, kesal ata merendahkan. Makna konotasi tidak sama dengan makna kiasan. Makna konotasi ada yang positif dan ada yang negatif. Contoh;
Kata
Makna Dasar
Makna tambahan
Mampus
mati
kurang hormat, kasar
Gugur
jatuh / mati
mati di medan juang

2.     Makna Denotasi (referensial): makna kata lugas dan menunjuk langsung pada acuan tanpa disertai nilai rasa atau emosi. Contoh;
*   merah; warna seperti darah                                    *      Babi; jenis binatang
3.     Makna Lesikal (kamus): makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain. Contoh;
*   rumah; bangunan untuk tempat tinggal              *      sepeda; kendaraan roda dua tanpa mesin.
4.     Makna Gramatikal; makna baru yang timbul akibat proses gramtika. Contoh;
*   berumah; memiliki rumag                                      *      meluas; menjadi luas
5.     HOMONIM adalah kata yang tulisan dan cara pelafalannya sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Contoh :
                genting   =  keadaan genting=  gawat
                genting   =  genting rumah  =  atap
                jarak      =  pohon jarak     =  tanaman
                jarak      =  jarak jauh         =  ukuran
6.     HOMOFON adalah kata cara pelafalannya sama tetapi penulisan dan maknanya berbeda. Contoh :
Kol =  sayur kol =  tanaman
Kol =  naik colt =  kendaraan
Bang =  Bang Ali =  kakak
Bang =  Bank Mandiri =  lembaga penyimpanan uang
               
7.     HOMOGRAF adalah kata yang tulisannya sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda. Contoh :
                seri          =  berseri-seri         =  gembira
                seri          =  bermain seri      =  seimbang
                teras       =  pejabat teras    =  inti
                teras       =  teras rumah      =  bagian depan rumah
8.     Hiponim adalah kata-kata yang tingkatannya berada di bawah kata yang lain. Contoh: katak, kera, buaya, dan ayam merupakan hiponim dari hewan.
*   Beberapa orang berburu katak pada malam hari.
*   Pengelola kebun binatang memberi makan beberapa kera.
*   Pawang itu berhasil menangkap buaya di sungai dekat rumahku.
9.     SINONIM adalah persamaan makna antara dua kata atau lebih. Contoh
           agar   =  supaya                                                                 badai      =  topan
           ahli    =  pakar                                                                    bagan     =  skema
10.  ANTONIM adalah kata-kata yang berlawanan maknanya Contoh : 
                Siang      ><   malam                                                   gelap              ><   terang
                hidup      ><   mati
11.  Polisemi: satu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Polisemi timbul karena perkembangan makna suatu kata. Sebab-sebab timbulnya polisemi antara lain:
a.     Akibat pemakaian khusus; “bedah (jawa)” memiliki arti robek, sobek atau rusak. Sebagai akibat pemakaian khusus dlam bidang kedokteran bedah berarti “operasi”.
b.     Pemakaian dalam arti kiasan; dari kata membanting, timbul kiasan membanting tulang, membanting harga, membanting stir.

Ungkapan
Ungkapan  (Idiom) adalah gabungan kata yang maknanya tidak sama dengan gabungan unsur-unsur kata pembentuknya. Ungkapan disebut juga frase idomatikal, contoh ungkapan:
*      membanting tulang = bekerja keras                                             *      tinggi hati = sombong
*      memeras keringat = bekerja keras                                                *      darah daing =  anak kandung
*      mengadu domba = memecah belah                                             *      tebal muka = tidak punya malu

Majas (Gaya Bahasa)
Merupkan pengungkapan berkias unruk memperoleh efek makna tertentu. Gaya bahasa dapat dikelompokan menjadi:
1.     Majas perbandingan:                                                                           
a.     Metafora; majas yang menyamakan suatu benda dengan benda lain secara langsung karena persamaan sifat.Contoh:
*      Karena seorang lintah darat, ia dijauhi penduduk. (rentenir)
*      Dewi malam telah keluar dari balik awan. (Bulan)
b.     Personifikasi; majas yang menggambarkan benda-banda mati seolah-olah hidup. Contoh:
*      Bulan tersenyum menyaksikan keguyuban anak-anak dolanan di halaman rumah.
*      kapal layar itu hilang direlan ombak.
c.     Simile; majas yang menggunakan kata-kata perbandingan (seperti, bagaikan, laksana, dll). Contoh:
*      bagai telur di ujung tanduk                                                   *      dagunya bak lebah bergantung
*      pipinya bagai pauh dilayang                                                *      Hidup tanpa cinta bagai sayur tanpa garam
d.     Asosiasi; majas yang membandingkan benda lain dengan memberikan persamaanterhasdap benda tersebut. Contoh:
*      Mukanya pucat bagaikan mayat.
*      Semangatnya keras seperti baja.
f.     Simbolik; Majas yang melukiskan sesuatu dengan benda lain sebagai simbol atau lambang. Contoh:
*      Akhirnya cucunguk itu mendapatkan ganjaran atas tindakkannya. (suka mengacau)
*      Bunglon itu akhirnya terjebak dengan sendiri. (tidak punya pendirian)
2.     Majas pertentangan:
a.     Hiperbola; Majas yang melukiskan sesuatu secara berlebihan. Contoh:
*      Tono bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolahnya.
*      Sejuta indah bertaburan saat-saat kami berduaan
b.     Litotes; Majas yang melemahkan diri/ merendahkan diri agar lebih sopan. Contoh:
*      Mampirlah ke gubuk kami sekadar melepas penat.
* Kami harap bapak berkenan atas bingkisan yang tidak berharga ini.
c.     Ironi; Majas yang menyindir secara halus dengan membalikan kata-katanya. Contoh:
*      Disiplin sekali Anda, tiga hari berturut-turut terlambat sampai sekolah!
*      Bagus sekali gambarmu, dik! (buruk)
d.     Paradoks; Majas yang mempertentengkan suatu situasi dengan situasi yang lain. Contoh:
*      Memang ia kecil tetapi kuat
*      dalam dunia yang ramai ini aku merasa sepi tanpa kau di sisiku.
e.     Sinisme; Majas yang lebih kasar daripada ironi Contoh:
*      Muntah aku, melihat perbuatanmu ini!
*      “Harum sekali badanmu dik!”, kata sang suami kepada istrinya yang belum mandi.
f.     Sarkasme; Majas yang sangat kasar sekali.Contoh:
*      Hai anjing! Keluar kau dari sini.
*      jijik aku melihat mukamu yang seperti monyet!
g.     Repetisi; Majas yang mengulang kata beberapa kali untuk mempertegas, sering terdapat pada prosa atau bahasa bertutur. Contoh:
*      Selama jantung masih berdetak, selama darah masih mengalir, selama napas masih mengalum, aku tidak akan pernah berhenti mencintaiMu.
*      Bahagia tak perlu dicari ke mana-mana, bahagia tak perlu jauh-jauh diburu, bahagia itu ada di dalam hati sanubari sendiri .
h.     Koreksio; Majas penegas yang digunakan untuk membetulkan kata yang salah diucapkan sebelumnya, baik sengaja ataupun tidak. Contoh:
*      Dia adikku, eh bukan,  kekasihku.
*      silahkan pulang saudara-saudara, eh maaf, silahkan makan!.
i.      Antitesis; Majas yang mempergunakan paduan kata-kata yang berlawanan artinya Contoh:
*      Hidup matinya, susah senagnya, serahkanlah padaku.
*      Tua muda, besar kecil, laki perempuan hadir dalam rapat raksasa itu.
3.     Majas pertautan:
a.     Metonimia; Majas yang hanya mengemukakan merk tetapi yang dimaksud adalah mengacu pada sekelompok benda secara keseluruhan Contoh:
*      Para siswa karya wisata ke Bali naik Garuda.
*      Nikmat sekali gudang garam ini.
b.     Sinekdoke; majas ini dapat dikelompokkan menjadi:
1)    Pars pro Toto; majas yang menyebutkan bagian suatu hal untuk mengganti nama keseluruhan dari hal tersebut. Contoh:
*      Tiap kepala mendapat jatah Rp 25.000,00 per hari.
*      Sudah satu minggu ini Bambang tidak menampakkan batang hidungnya.
2)    Totem Pro Toto; Majas yang menyebutkan benda secara keseluruhan dengan acuan yang hanya dari suatu benda tersebut. Contoh:
*      Indonesia menang 2 – 1 atas Malaysia
*      Jakarta memimpin sementara perolehan medali pada Pekan Olah Raga Nasional kali ini.
c.     Alusio; Majas yang menyatakan suatu tindakan dengan kata lain yang sejalan. Contoh:
*      Ia pun setali tiga uang dengan kakaknya kalau disuruh belajar.
d.     Eufemisme; Majas yang berupa ungkapan untuk menggantikan ungkapan lain yang dirasa kasar / tabu. Contoh:
*      Putra bapak memang agak ketinggalan.
*      Saya minta ijin ke belakang.
e.     Tropen; Majas yang mengugkapkan suatu tindakan dengan kata lain yang sejalan. Contoh:
*      Sejak mendapat surat putus, Susi  mengubur dirinya terus di dalam kamar.
*      Betapapun sulitnya hidup ini,  saya tak akan pernah menjual diri.
f.     klimaks; Majas yang beisi  urutan kejadian yang semakin naik Contoh:
*      Mula-mula ia tersenyum, tertawa lalu terbahak-bahak.
*      Jangankan hanya rumah, emas segudangpun akan aku berikan
g.     Antiklimaks; Majas yang berisi urutan kejadian yang semakin menurun Contoh:
*      Jangankan seribu ruiah, seratus bahkan serupiahpun aku tak punya.
*      Setelah berlari cepat ia berjalan, tergeletak lemas dan pingsan.
h.     Pleonasme; Majas penegas dengan menggunakan kata yang sebenarnya tidak perlu. Contoh:
*      Ia menoleh ke samping.
*      Peristiwa itu kami saksikan dengan mata kepala sendiri.
i.      Retoris; Majas yang menggunakan kalimat tanya tetapi tidak bertannya, sering bersifat mengejek atau menyatakan kesangsian, digunalan para ahli pidato. Contoh:
*      Inikah yang dinamakan bekerja? (pekejaan buruk).
j.      Inversi; Majas yang membalikan subyek-predikat menjadi predikat-subyek, dengan tujuan agar penekanan jatuh pada predikatnya Contoh:
*      Turun hujan, patahlah dahan..
*      Dimalam knk, terang benar bulan.

Peribahasa
Peribahasa adalah ungkapan bahasa secara berkias dalam bentuk kalimat yang susunannya tetap dan maknyannya pun relatif tetap dan berkias. Peribahasa dapat dikelompokan menjadi:
1.       Pepatah; peribahasa yang berisi nasehat atau ajaran hidup, misalnya:
·         Air tenang menghanyutkan (orang pendiam banyak ilmunya).
·         Besar pasak dari pada tiang (Pengeluaran lebuh beasar daripada pemasukan).
2.       Perumpamaan; peribahasa yang berisi perbandingan, biasanya menggunakan kata-kata; seperti, laksana, bagai, dan seterusnya, misalnya:
·         Bagai air di daun talas (Orang yang tak punya pendirian).
·         Seperi air jatuh  ke pasir ( kebaikan yang tidak terbalas).
3.       Pameo; peribahasa yang umunya dijadikan semboyan atau penggugah semangat, misalnya:
·         Esa hilang dua terbilang (Bertetap hati untuk mengerjakan sesuatu yang berbahaya).
·         Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.
4.       Tamsil;  ungkapan yang bersanjak dan berirama, misalnya:
·         Ada ubi ada talas, ada budi ada bakas
·         Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar