Perubahan Makna
Makna kat dalam suatu bahasa tidaklah tetap,
tetapi sellau berubah-ubah. Perubahan makna kata dapat dikelmpokan menjadi:
1. Peyorasi
(memburuk); pergesaran makna dengan arti baru yang lebih rendah, kurang
terhormat dari arti dasarnya. Pemakaian kata-kata dengan pergeseran makna
peyorasi biasanya dilatarbelakangi suatu rasa kejengkelan atau tidak suka terhadap
objek yang dibicarakan, misalnya:
|
Kata
|
Makna semula
|
Makna sekarang
|
|
Perempuan
|
lawan jenis
pria
|
lebih hormat
daripada wanita
|
|
Bini
|
perempuan
yang sudah dinikah
|
lebih rendah
daripada istri
|
|
Bunting
|
mengandung
bayi/anak
|
lebih rendah
daripada hamil
|
2.
Ameliorasi (membaik); kata-kata yang
maknanya mengalami pergeseran makna menuju lebih baik, lebih halus, lebih
terhormat, misalnya:
|
Kata
|
Makna semula
|
Makna sekarang
|
|
Wanita
|
lawan jenis
pria
|
lebih hormat
daripada perempuan
|
|
Putra
|
Anak
laki-laki
|
lebih hormat
daripada anak
|
|
Putri
|
Anak
perempuan
|
lebih hormat
daripada anak
|
3.
Spesiakisai (menyempit); cakupan makna sekarang menjdi lebih
sempit daripada makna semula, misalnya:
|
Kata
|
Makna semula
|
Makna sekarang
|
|
Sarjana
|
Orang pandai
|
Lulusan
perguruan tinggi
|
|
Pembantu
|
Oarang yang
membantu
|
Pelayan
rumah tangga
|
|
Madrasah
|
sekolah
|
Sekolah
agama
|
4.
Generealisasi (meluas); Cakupan makna sekarang menjadi lebih
luas daripada makna sebelumnya, misalnya:
|
Kata
|
Makna semula
|
Makna sekarang
|
|
Bapak
|
Orangtua
laki-laki
|
Semua
laki-laki yang lebih tua / ditinggikan
|
|
Ibu
|
Orang tua
perempuan
|
Semua
permpuan yang lebih tua / ditinggikan
|
|
Saudara
|
Mempunyai
hubungan darah (kekerabatan)
|
Semua orang
sederajat
|
5.
Asosiasi; peubahan/pergeseran makna karena persamaan sifat yang
disebakan oleh pemakaian kata dalam konteks yang berbeda, misalnya:
|
Kata
|
Makna semula
|
Makna sekarang
|
|
Amplop
|
Sampul surat
|
Uang sogok
atau suap
|
|
Bunga
|
kembang
|
Gadis cantik
|
|
Hijau
|
warna
|
Masih muda /
belum berpengalaman
|
6.
Sinestesia; perubahan makna karena pertukaran tanggapan antara
dua indra, misalnya:
* Kata-katanya
sangat pedas dikupingku. (pengecap ke pendengaran).
* Sura penyannyi itu terdengar lembut. (peraba ke pendengaran).
1. Makna
konotasi (emotif) : makna tambahan terhadap makna dasarny berupa nilai rasa
tertentu, misalnya perasaan hormat, kesal ata merendahkan. Makna konotasi tidak
sama dengan makna kiasan. Makna konotasi ada yang positif dan ada yang negatif.
Contoh;
|
Kata
|
Makna Dasar
|
Makna tambahan
|
|
Mampus
|
mati
|
kurang
hormat, kasar
|
|
Gugur
|
jatuh / mati
|
mati di medan juang
|
2. Makna
Denotasi (referensial): makna kata lugas
dan menunjuk langsung pada acuan tanpa disertai nilai rasa atau emosi. Contoh;
* merah; warna seperti darah * Babi; jenis binatang
3. Makna Lesikal (kamus): makna kata
secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain. Contoh;
* rumah; bangunan untuk tempat tinggal * sepeda;
kendaraan roda dua tanpa mesin.
4. Makna
Gramatikal; makna baru yang timbul akibat proses gramtika. Contoh;
* berumah; memiliki rumag * meluas; menjadi luas
5. HOMONIM adalah kata yang tulisan dan
cara pelafalannya sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Contoh :
genting =
keadaan genting= gawat
genting =
genting rumah = atap
jarak =
pohon jarak = tanaman
jarak =
jarak jauh = ukuran
6. HOMOFON adalah kata cara pelafalannya
sama tetapi penulisan dan maknanya berbeda.
Contoh :
|
Kol =
sayur kol = tanaman
Kol =
naik colt = kendaraan
|
Bang =
Bang Ali = kakak
Bang =
Bank Mandiri = lembaga penyimpanan uang
|
7. HOMOGRAF adalah kata yang tulisannya
sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda.
Contoh :
seri
=
berseri-seri = gembira
seri =
bermain seri = seimbang
teras =
pejabat teras = inti
teras =
teras rumah = bagian depan rumah
8. Hiponim adalah kata-kata yang
tingkatannya berada di bawah kata yang lain. Contoh: katak, kera, buaya, dan
ayam merupakan hiponim dari hewan.
* Beberapa orang
berburu katak pada malam hari.
* Pengelola kebun
binatang memberi makan beberapa kera.
* Pawang itu berhasil
menangkap buaya di sungai dekat rumahku.
9. SINONIM adalah persamaan makna antara
dua kata atau lebih. Contoh
agar =
supaya badai =
topan
ahli =
pakar bagan =
skema
10. ANTONIM adalah kata-kata yang
berlawanan maknanya Contoh :
Siang ><
malam gelap >< terang
hidup ><
mati
11. Polisemi: satu kata yang mempunyai
makna lebih dari satu. Polisemi timbul karena perkembangan makna suatu kata.
Sebab-sebab timbulnya polisemi antara lain:
a. Akibat
pemakaian khusus; “bedah (jawa)” memiliki arti robek, sobek atau rusak. Sebagai
akibat pemakaian khusus dlam bidang kedokteran bedah berarti “operasi”.
b. Pemakaian dalam
arti kiasan; dari kata membanting, timbul kiasan membanting tulang, membanting
harga, membanting stir.
Ungkapan
Ungkapan (Idiom) adalah gabungan kata yang maknanya
tidak sama dengan gabungan unsur-unsur kata pembentuknya. Ungkapan disebut juga
frase idomatikal, contoh ungkapan:
* membanting
tulang = bekerja keras * tinggi hati = sombong
* memeras
keringat = bekerja keras * darah daing = anak kandung
* mengadu
domba = memecah belah * tebal muka = tidak punya malu
Majas (Gaya
Bahasa)
Merupkan pengungkapan berkias unruk
memperoleh efek makna tertentu. Gaya
bahasa dapat dikelompokan menjadi:
1. Majas
perbandingan:
a. Metafora;
majas yang menyamakan suatu benda dengan benda lain secara langsung karena
persamaan sifat.Contoh:
* Karena seorang lintah darat, ia dijauhi penduduk. (rentenir)
* Dewi malam telah keluar dari balik awan. (Bulan)
b. Personifikasi;
majas yang menggambarkan benda-banda mati seolah-olah hidup. Contoh:
* Bulan tersenyum menyaksikan keguyuban
anak-anak dolanan di halaman rumah.
* kapal layar itu hilang direlan ombak.
c. Simile; majas yang menggunakan kata-kata
perbandingan (seperti, bagaikan, laksana, dll). Contoh:
* bagai telur di ujung tanduk * dagunya bak lebah bergantung
* pipinya bagai pauh dilayang * Hidup tanpa cinta bagai sayur tanpa garam
d. Asosiasi;
majas yang membandingkan benda lain dengan memberikan persamaanterhasdap benda
tersebut. Contoh:
* Mukanya pucat bagaikan mayat.
* Semangatnya keras seperti baja.
f. Simbolik;
Majas yang melukiskan sesuatu dengan benda lain sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
* Akhirnya cucunguk itu
mendapatkan ganjaran atas tindakkannya. (suka mengacau)
* Bunglon itu akhirnya
terjebak dengan sendiri. (tidak punya pendirian)
2. Majas pertentangan:
a. Hiperbola;
Majas yang melukiskan sesuatu secara berlebihan. Contoh:
* Tono bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolahnya.
* Sejuta indah bertaburan saat-saat kami berduaan
b. Litotes;
Majas yang melemahkan diri/ merendahkan diri agar lebih sopan. Contoh:
* Mampirlah ke gubuk kami sekadar melepas penat.
* Kami harap bapak
berkenan atas bingkisan yang tidak berharga ini.
c. Ironi;
Majas yang menyindir secara halus dengan membalikan kata-katanya. Contoh:
* Disiplin sekali Anda, tiga hari berturut-turut terlambat sampai
sekolah!
* Bagus sekali gambarmu, dik! (buruk)
d. Paradoks;
Majas yang mempertentengkan suatu situasi dengan situasi yang lain.
Contoh:
* Memang ia kecil tetapi kuat
* dalam dunia yang ramai ini aku merasa sepi tanpa kau di sisiku.
e. Sinisme;
Majas yang lebih kasar daripada ironi Contoh:
* Muntah aku, melihat perbuatanmu ini!
* “Harum sekali badanmu dik!”, kata sang suami kepada istrinya
yang belum mandi.
f. Sarkasme;
Majas yang sangat kasar sekali.Contoh:
* Hai anjing! Keluar kau dari sini.
* jijik aku melihat mukamu yang seperti monyet!
g. Repetisi;
Majas yang mengulang kata beberapa kali untuk mempertegas, sering terdapat pada
prosa atau bahasa bertutur. Contoh:
* Selama jantung masih berdetak, selama
darah masih mengalir, selama napas masih mengalum, aku tidak akan pernah
berhenti mencintaiMu.
* Bahagia tak perlu dicari ke mana-mana,
bahagia tak perlu jauh-jauh diburu, bahagia itu ada di dalam hati sanubari
sendiri .
h. Koreksio;
Majas penegas yang digunakan untuk membetulkan kata yang salah diucapkan
sebelumnya, baik sengaja ataupun tidak. Contoh:
* Dia adikku, eh bukan,
kekasihku.
* silahkan pulang saudara-saudara, eh maaf, silahkan makan!.
i. Antitesis;
Majas yang mempergunakan paduan kata-kata yang berlawanan artinya
Contoh:
* Hidup matinya, susah senagnya, serahkanlah padaku.
* Tua muda, besar kecil, laki perempuan hadir dalam rapat raksasa
itu.
3. Majas pertautan:
a. Metonimia;
Majas yang hanya mengemukakan merk tetapi yang dimaksud adalah mengacu pada
sekelompok benda secara keseluruhan Contoh:
* Para siswa karya wisata ke Bali
naik Garuda.
* Nikmat sekali gudang garam ini.
b. Sinekdoke;
majas ini dapat dikelompokkan menjadi:
1) Pars pro Toto; majas yang menyebutkan bagian
suatu hal untuk mengganti nama keseluruhan dari hal tersebut. Contoh:
* Tiap kepala mendapat jatah Rp 25.000,00
per hari.
* Sudah satu minggu ini Bambang tidak
menampakkan batang hidungnya.
2) Totem Pro Toto; Majas yang menyebutkan benda
secara keseluruhan dengan acuan yang hanya dari suatu benda tersebut. Contoh:
* Indonesia
menang 2 – 1 atas Malaysia
* Jakarta
memimpin sementara perolehan medali pada Pekan Olah Raga Nasional kali ini.
c. Alusio;
Majas yang menyatakan suatu tindakan dengan kata lain yang sejalan. Contoh:
* Ia pun setali tiga uang dengan kakaknya kalau disuruh belajar.
d. Eufemisme;
Majas yang berupa ungkapan untuk menggantikan ungkapan lain yang dirasa kasar /
tabu. Contoh:
* Putra bapak memang agak ketinggalan.
* Saya minta ijin ke belakang.
e. Tropen;
Majas yang mengugkapkan suatu tindakan dengan kata lain yang sejalan.
Contoh:
* Sejak mendapat surat
putus, Susi mengubur dirinya terus di
dalam kamar.
* Betapapun sulitnya hidup ini,
saya tak akan pernah menjual diri.
f. klimaks;
Majas yang beisi urutan kejadian yang
semakin naik Contoh:
* Mula-mula ia tersenyum, tertawa lalu terbahak-bahak.
* Jangankan hanya rumah, emas segudangpun akan aku berikan
g. Antiklimaks;
Majas yang berisi urutan kejadian yang semakin menurun Contoh:
* Jangankan seribu ruiah, seratus bahkan serupiahpun aku tak
punya.
* Setelah berlari cepat ia berjalan, tergeletak lemas dan
pingsan.
h. Pleonasme;
Majas penegas dengan menggunakan kata yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh:
* Ia menoleh ke samping.
* Peristiwa itu kami saksikan dengan mata kepala sendiri.
i. Retoris;
Majas yang menggunakan kalimat tanya tetapi tidak bertannya, sering bersifat
mengejek atau menyatakan kesangsian, digunalan para ahli pidato. Contoh:
* Inikah yang dinamakan bekerja? (pekejaan buruk).
j. Inversi;
Majas yang membalikan subyek-predikat menjadi predikat-subyek, dengan tujuan
agar penekanan jatuh pada predikatnya Contoh:
* Turun hujan, patahlah dahan..
* Dimalam knk, terang benar bulan.
Peribahasa
Peribahasa adalah ungkapan bahasa secara berkias dalam bentuk
kalimat yang susunannya tetap dan maknyannya pun relatif tetap dan berkias.
Peribahasa dapat dikelompokan menjadi:
1.
Pepatah;
peribahasa yang berisi nasehat atau ajaran hidup, misalnya:
·
Air
tenang menghanyutkan (orang pendiam banyak ilmunya).
·
Besar
pasak dari pada tiang (Pengeluaran lebuh beasar daripada pemasukan).
2.
Perumpamaan;
peribahasa yang berisi perbandingan, biasanya menggunakan kata-kata; seperti,
laksana, bagai, dan seterusnya, misalnya:
·
Bagai
air di daun talas (Orang yang tak punya pendirian).
·
Seperi
air jatuh ke pasir ( kebaikan yang tidak
terbalas).
3.
Pameo;
peribahasa yang umunya dijadikan semboyan atau penggugah semangat, misalnya:
·
Esa
hilang dua terbilang (Bertetap hati untuk mengerjakan sesuatu yang berbahaya).
·
Bersatu
kita teguh bercerai kita runtuh.
4.
Tamsil; ungkapan yang bersanjak dan berirama,
misalnya:
·
Ada ubi ada talas, ada budi ada bakas
·
Tua-tua
keladi, makin tua makin menjadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar