Menurut Ilmu Geologi (ilmu yang
mempelajari kulit bumi), perkembangan bumi terbagi dalam beberapa tahapan,
sebagai berikut:
1. Arkaikum (kira-kira
2500 juta tahun lalu)
2. Palaeozoikum (kira-kira
340 juta tahun lalu)
3. Mesozoikum (kira-kira
140 juta tahun lalu)
4. Neozoikum atau
Kenozoikum (kira-kira 60 juta tahun lalu). Zaman ini dibagi menjadi:
a. Tertier.
b. Kwarter (kurang lebih 600.000
tahun yang lalu
Pra-aksara (masa pra-sejarah) adalah suatu masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Sedangkan masa sesudah manusia mengenal tulisan. Masa pra-aksara disebut juga dengan masa nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya tulisan)
Bejana perunggu adalah sebuah banda
yang bentuknya mirip seperti gitar Spanyol tetapi tanpa tangkai. Nekara adalah
semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi
atapnya tertutup abris sous rosche adalah tempat berupa gua-gua yang menyerupai
ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberikan perlindungan dari
hujan dan panas Optimal hasil yang diharpakan. kjokkenmoddinger adalah
kulit-kulit siput dan kerang yang dibuang itu selama ratusan atau ribuan tahun,
menumpuk yang akhirnya menjelma menja menjadi bukit kerang dengan ketinggian
dan lebarnya beberapa meter.
Berdasarkan benda-benda peninggalan
yang ditemukan, masa pra-aksara / pra-sejarah dibagi menjadi :
1. zaman batu; zaman
batu ini dibagi lagi atas beberapa periode, yaitu:
a. zaman batu tua
(Palaelithkum) c.
zaman batu muda (Neolithikum)
b. zaman batu tengah
(Mesolithikum) d. zaman batu besar (Megalithikum)
2. zaman logam
Pada saat makanan (tumbuhan dan
binatang) yang disediakan alam itu berlimpah maka tingkat kehidupan manusia
pada waktu itu cukup berburu dan mengumpulkan makanan. Tetapi ketika bahan
makanan mulai menipis dan tidak ada lagi, timbulah kemampuan manusia untuk
mengolahnya. Perubahan yang terjadi pada alam ini, akan berpengaruh kepada
kehidupan manusia. Mereka tidak lagi hidup berpindah-pindah (nomaden), tetapi
mulai pada kehidupan yang menetap.
Di Indonesia VOC memiliki wewenang
dan hak-hak antara lain sebagai berikut:
1. Hak mendata
personil atas dasar sumpah setia.
2. Hak melakukan
peperangan.
3. Hak untuk
mengadakan perjanjian dengan penguasapenguasa diseluruh Asia.
4. Hak membentuk
tentara dan mendirikan bentengbenteng.
5. Hak mengedarkan
mata uang.
6. Hak memerintah di
negeri jajahan
6Untuk semakin memperbesar
kekuasaanya di Indonesia, VOC melakukan cara-cara politik devide et impera atau
politik adu domba, dan tipu muslihat. Kejayaan VOC ternyata tidak bertahan
lama. Dalam perkembangannya VOC mengalami masalah yang besar, yakni
kebangkrutan. Kebangkrutan VOC ini terutama sekali terjadi karena para
pegawainya banyak yang melakukan korupsi. Inilah sebabnya maka pada tanggal 31
Desember 1799, VOC dibubarkan. Setelah VOC dibubarkan kekuasaan kolonial di
Indonesia diambil alih Pemerintah Belanda.
Terbentuknya Pemerintahan Kolonial
Hindia Belanda
1. Pemerintahan
Daendels (1808-1811)
- Meningkatkan usaha pemasukan
uang dengan cara pemungutan pajak.
- Meningkatkan penanaman tanaman
yang hasilnya laku di ‘pasaran dunia.
- Rakyat masih diharuskan
melaksanakan penyerahan wajib hasil pertaniannya.
- Untuk menambah pemasukan dana,
juga telah dilakukan penjualan tanah-tanah kepada pihak swasta.
- Membangun jalan Anyer –
Panarukan, Jawa Barat
2. Pemerintahan
Janssen (1811); Inggris terus mendesak kekuatan Belanda di Indonesia. Akhirnya
Belanda menyerah di Tuntang, Salatiga. Penyerahah Janssen kepada Inggris secara
resmi melalui Kapitulasi Tuntang yang ditandatangani pada tanggal 18 September
1811.
3. Indonesia di bawah
Kekuasaan Inggris (1811 -1816); Tindakan Raffels yang terkenal adalah dalam
bidang ekonomi, sebagai berikut.
- Pelaksanaan sistem sewa tanah
atau pajak tanah (land rent) yang akan meletakkan dasar bagi perkembangan
sistem perekonomian uang.
- Penghapusan pajak dan
penyerahan wajib hasil bumi.
- Penghapusan kerja rodi dan
perbudakan.
- Penghapusan sistem monopoli.
- Peletakan desa sebagai unit
administrasi penjajahan. Tahun 1816, Raffles telah mengakhiri kekuasaannya di
Indonesia.
4. Pelaksanaan
Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda II Setelah kembali ke tangan Belanda,
Indonesia dipimpin oleh tiga orang Komisaris Jenderal, yaitu Elout, Van der
Capellen dan Buyskas. Sementara itu kondisi perekonomian Belanda sedang
merosot. Pemerintah Belanda mengalami kesulitan ekonomi.
5. Menghadapi
kesulitan kesulitan ekonomi itu, maka pada tahun 1829 seorang tokoh bemama
Johannes Van den Bosh mengajukan kepada raja Belanda usulan-usulan yang
berkaitan dengan cara-cara melaksanakan politik kolonial Belanda di Indonesia.
Usul-usul itu antara lain bagaimana menghasilkan lebih banyak produk-produk
tanaman yang dapat dijual di pasaran dunia. Sesuai dengan keadaan di negeri
jajahan, maka penanaman dilakukan dengan paksa.
Konsep
yang diusulkan Van den Bosh itulah yang kemudian dikenal dengan Cultuurstelsel
(Tanam Paksa). Untuk dapat melaksanakan rencana tersebut pada tahun 1830 Van
den Bosh diangkat sebagai Gubernur Jenderal baru di Jawa.
Tanam
Paksa; kebijakan Gubernur Jendral Van den Bosh yang mewajibkan para petani Jawa
untuk menanam tanaman-tanaman yang dapat diekspor ke pasaran dunia. Jenis
tanaman itu antara lain kopi, tebu, tembakau, nila.
Ciri
utama dari sistem Tanam Paksa adalah mewajibkan rakyat di Jawa untuk membayar
pajak dalam bentuk barang dengan hasil-hasil pertanian yang mereka tanam. Untuk
mempermudah pelaksanaan sistem tersebut diperlukan ketentuan-ketentuan yang
lebih rinci. Ketentuan-ketentuan Tanam Paksa itu seperti termuat di dalam
Staatblat (Lembaran Negara) Tahun 1834, No. 22. Ketentuan-ketentuan itu sebagai
berikut.
(1) Berdasarkan
persetujuan, penduduk menyediakan sebagian dari tanahya untuk penanaman tanaman
yang hasilnya dapat dijual di pasaran dunia.
(2) Tanah pertanian
yang disediakan penduduk untuk tujuan Tanam Paksa tidak boleh melebihi
seperlima dari tanah pertanian yang dimiliki penduduk desa.
(3) Waktu dan
pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman dagangan atau tanaman ekspor
(jenis tanaman untuk Tanam Paksa) tidak boleh melebihi pekerjaan yang
diperlukan untuk menanam padi.
(4) Tanah yang
disediakan untuk tanaman dagangan dibebaskan dari pernbayaran pajak tanah.
(5) Hasil tanaman
dagangan itu wajib diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Jika harga atau
nilai hasil tanaman dagangan yang ditaksir melebihi pajak tanah yang harus
difbayarkan oleh rakyat, maka ditaksir kelebihannya akan dikembalikan kepadi
rakyat.
(6) Kegagalan panen
yang bukan disebabkan oleh kesalahan rakyat petani, menjadi tanggungan
pemerintah.
(7) Penduduk desa
bekerja di tanah-tanah untuk pelaksanaan Tanam Paksa itu di bawah pengawasan
langsung oleh para penguasa pribumi, sedang pegawai-pegawai Eropa melakukan
pengawasan secara umum.
Pelaksanaan
Tanam Paksa; Ternyata seluruh pelaksanaan sistem Tanam Paksa didasarkan atas
unsur paksaan. Para petani harus menyewakan tanah tanpa kompromi dan bahkan
dipilih tanah-tanah yang subur. Luas tanah yang dipakai untuk Tanam Paksa
ternyata tidak hanya seperlima namun mencapai sepertiga bahkan kadang-kadang
sampai separuh dari luas tahah yang dimiliki petani.
Perlawanan Portugis :
1. Perlawanan
Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate.
2. Perlawanan
Kesultanan Demak, R. Patah mengirim pasukannya di bawah Pati Unus untuk
menyerang Portugis di Malaka. Pati Unus melancarkan serangannya pada tabun 1512
dan 1513. Kemudian pada tahun 1527, tentara Demak kembali melancarkan serangan
terhadap Portugis yang mulai menanamkan pengaruhnya di Sunda Kelapa.
3. Perlawanan Kesultanan
Aceh, pada tahun 1629 Aceh mencoba menaklukkan Portugis. Penyerangan yang
dilakukan Aceh ini belum berhasil mendapat kemenangan. Namun demikian Aceh
masih tetap berdiri sebagai kerajaan yang merdeka.
Perlawanan terhadap VOC :
1. Perlawanan Kesultanan
Mataram, pada tanggal 8 November 1618 Gubernur Jendral VOC Jan Pieterzoon Coen
memerintahkan Van der Marct menyerang Jepara. Peristiwa tersebut yang
memperuncing perselisihan antara Mataram dengan Belanda. Raja Mataram Sultan
Agung segera mempersiapkan penyerangan terhadap kedudukan VOC di Batavia.
Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628. Pasukan Mataram yang dipimpin
Tumenggung Baurekso tiba di Batavia tanggal 22 Agustus 1628. Serangan pertama
ini gagal dikarenakan :
- Mataram kurang teliti memperhitungkan
medan pertempuran
- Kekurangan perbekalan
- Kalah persenjataan
Mataram
segera mempersiapkan serangan kedua Kali ini pasukan Mataram dipimpin Kyai
Adipati Juminah, K.A. Puger, dan K.A. Purbaya. Serangan dimulai tanggal 1
Agustus dan berakhir 1 Oktober 1629. Serangan kedua inipun gagal. Selain karena
faktor kelemahan pada serangan pertama, lumbung padi persediaan makanan banyak
dihancurkan Belanda.
2. Perlawanan
Kesultanan Gowa, meletuslah perang antara VOC dengan Gowa pada 7 Juli 1667.
Tentara VOC dipimpin Spelman yang diperkuat pengikut Arung Palaka menggempur
Gowa. Karena kalah persenjataan, Benteng pertahanan tentara Gowa di Barombang
dapat diduduki oleh pasukan Arung Palaka. Perselisihan ini diakhiri dengan
ditandatanganinya perjanjian Bongaya yang isinya sebagai berikut.
- Gowa harus mengakui hak
monopoli.
- Semua orang Barat, kecuali
Belanda harus meninggalkan wilayah kekuasaan Gowa.
- Gowa harus membayar biaya
perang.
- Di Makasar dibangun
benteng-benteng VOC
Pada
mulanya perjanjian Bongaya itu tidak ingin dilaksanakan. Bahkan Hasanuddin
mengobarkan perlawanan kembali pada bulan April 1668.
Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap
Kekuasaan Hindia Belanda
1. Perlawanan Rakyat
Maluku (1817) dipimpin oleh Thomas Matulesi. Ia dijuluki Pattimura. Tokoh-tokoh
dalam pelawanan ini antara lain;: Christina Martha Tiahahu, Anthon Rhebok,
Thomas Pattiwwail, dan Lucas Latumahina. Kapitan Patimura segera memimpin
rakyat untuk menyerbu benteng Duurstede. Tanggal 15 Mei 1817 perlawanan rakyat
Maluku dikobarkan.
2. Perlawanan Kaum
Paderi (1821-1837)
- Perang Tahap Pertama
(1821-1825), pada tahap pertama, kaum Paderi menyerang pos-pos dan pencegatan
terhadap patroli-patroli Belanda. Pasukan Paderi menggunakan senjata-senjata
tradisional, seperti tombak, dan parang
- Perang Tahap kedua
(1825-1837), setelah dapat menundukkan perlawanan Diponegoro, Belanda kembali
melakukan penyerangan terhadap kedudukan Padri. Belanda menerapkan system
pertahanan Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan Benteng
Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanan. Dengan siasat ini
akhirnya Belanda menang. Hal ini ditandai jatuhnya benteng pertahanan terakhir
Padri di Bonjol tahun 1837.
3. Perlawanan Pangeran
Diponegoro (1825 - 1830) Peristiwa yang menjadi sebab khusus berkobamya perang
Diponegoro adalah pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang
melintasi tanah dan makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Pemasangan
patok itu tanpa izin, sehingga sangat ditentang oleh Pangeran Diponegoro.
Adapun sebab-sebab umum terjadinya perlawanan Diponegoro, sebagai berikut:
- Wilayah Kesultanan Mataram semakin sempit
dan para raja sebagai penguasa pribumi mulai kehilangan kedaulatan.
- Belanda ikut campur tangan dalam urusan
intern
- Timbulnya kekecewaan di kalangan para ulama,
karena masuknya budaya barat yang tidak sesuai dengan Islam.
- Sebagian bangsawan merasa kecewa karena
Belanda tidak mau mengikuti adapt istiadat kraton.
- Sebagian bangsawan kecewa terhadap Belanda
karena telah menghapus system penyewaan tanah oleh para, bangsawan kepada
petani (mulai tahun 1824).
- Kehidupan rakyat yang semakin menderita di
samping harus kerja paksa masih harus ditambah beban membayar berbagai macam
pajak.
Secara umum, Perang Dunia II
(1939-1945) pecah atau meletus karena terjadinya perlombaan senjata, kegagalan
LBB, terbentuknya aliansi politik, timbulnya imperialisme baru, munculnya
semangat balas dendam, berkembangnya paham nasional yang sempit, terjadinya
penyerbuan.
Secara khusus, Perang Dunia II meletus
karena Jerman menyerbu Polandia pada tanggal 1 September 1939. Karena Polandia
bersekutu dengan Inggris dan Perancis, maka pada tanggal 3 September 1939 kedua
Negara ini langsung balik menyerang Jerman.
Penyerbuan Jepang atas Cina tahun
1937 dan penyerangan Jepang atas armada angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour
tanggal 7 Desember 1941 juga menjadi sebab khusus meletusnya Perang Dunia II. Perang
Dunia II melibatkan banyak negara. Pertempuran terjadi di benua Eropa, antara lain
di Polandia dan Finlandia, Norwegia dan Denmark, Belanda, Belgia, dan Perancis,
Jerman, Inggris, Italia, dan Rusia. Pertempuran juga terjadi di benua Afrika,
antara lain di Afrika Utara, Afrika Timur, Mesir, Alexandria, Maroko, Aljazair,
dan Tunisi. Akibat Perang Dunia II, antara lain:
1. Amerika Serikat dan
Uni Soviet menjadi negara adikuasa;
2. Perekonomian dunia
merosot, kecuali Amerika Serikat. Amerika bahkan menjadi kreditor dunia;
3. Golongan cerdik
pandai semakin kuat dan banyak badan-badan social didirikan;
4. Kesadaran tentang
kekejaman perang semakin terasa. Karena itu dibentuklah PBB untuk menjaga perdamaian
dunia.
Setelah Belanda menyerah tanpa syarat
kepada Jepang, pada tanggal 8 Maret 1942, Indonesia menjadi wilayah kekuasaan
militer Jepang. Jepang menjadikan Indonesia sebagai wilayah jajahan yang
membantunya dalam memenangkan Perang Dunia II. Macam-macam organisasi bentukan
pemerintah Jepang, yaitu:
1. Gerakan Tiga A yang
dipimpin oleh Mr. Syamsuddin;
2. Putera yang dipimpin
Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara;
3. Jawa Hokokai;
- MIAI yang dipimpin oleh K.H. Mas
Mansyur dan Wondoamiseno;
- Masyumi yang dipimpin oleh
K.H. Hasyim Ashari dan K.H. Mas Mansyur.
Jepang membentuk organisasi pemuda
semi militer dan bercorak militer, antara lain:
1. Seinendan;
4. Heiho
2. Fujinkai;
5. Peta
3. Keibodan; ;
Penjajahan Jepang di Indonesia
menimbulkan kesengsaraan yang dialami bangsa Indonesia. Jepang melakukan:
pengerahan tenaga kerja romusha, pengerahan tenaga dan harta penduduk,
pengerahan pemuda untuk keperluan perang Jepang.
Bangsa Indonesia berusaha melepaskan
diri dari penjajahan dengan melakukan pemberontakan- pemberontakan terhadap
Jepang di berbagai daerah, misalnya:
1. di Aceh dipimpin oleh
Tengku Abdul Djali
2. di Jawa Barat dipimpin
oleh K.H. Zainal Mustafa
3. di Blitar dilakukan
oleh tentara Peta yang dipimpin Supriyadi
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia dilakukan dengan dua cara:
1. melalui perjuangan
bersenjata; dengan beberapa pertempuran senjata melawan penjajah.
2. perundingan-perundingan
(diplomasi); dilakukan dengan mencari
dukungan dunia internasional melalui PBB dan mengadakan perundingan langsung
dengan Belanda.
Perjuangan melalui perlawanan
bersenjata, antara lain:
1. Insiden
bendera di Surabaya (19 September 1945).
2. Pertempuran
lima hari di semarang (15 - 20 Oktober 1945).
3. Pertempuran
di Surabaya (10 November 1945).
4. Pertempuran
Medan Area (10 Desember 1945).
5. Bandung
lautan api (23 Maret 1946).
6. Pertempuran
Margarana (29 November 1946).
7. Pertempuran
lima hari di Palembang ( 1 Januari 1947).
8. Agresi
Militer Belanda I (21 Juli 1947).
9. Agresi
Militer Belanda II (19 Desember 1948).
10. Serangan
Umum 1 Maret 1949.
Perundingan yang dilakukan dengan
Belanda di antaranya adalah:
1. Perundingan
permulaan di Hooge Veluwe (14 - 25 April 1946).
2. Perundingan
gencatan senjata (20-30 September 1946).
3. Perjanjian
Linggarjati (10 - 15 November 1946).
4. Perjanjian Renville
(8 Desember 1947).
5. Perjanjian
Roem-Royen (17 April - 7 Mei 1949).
6. Konferensi
Inter-Indonesia (19 - 22 Juli 1949 dan 31 Juli - 2 Agustus 1949).
7. Konferensi Meja
Bundar (23 Agustus – 2 November 1949).
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
tanggal 27 Desember 1949. Penandatanganan pengakuan kedaulatan dilaksanakan di Belanda
dan Jakarta. Dengan demikian, berakhirlah penjajahan Belanda atas Indonesia.
Salah satu hasil Konferensi Meja
Bundar (KMB) adalah pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang
terdiri dari 16 negara bagian. Negara RIS tidak sesuai dengan cita-cita
kemerdekaan Indonesia sendiri. Karena itu, hasrat untuk kembali ke NKRI terus
meningkat.
Konferensi Pada tanggal 15 Agustus
1950, Indonesia kembali ke negara kesatuan sesuai dengan cita-cita proklamasi
17 Agustus 1945. Setelah kembali ke bentuk negara kesatuan pada tahun 1950,
Indonesia menganut system pemerintahan parlementer dengan Kabinet Ministerial
(1950-1959).
Pada masa demokrasi liberal terjadi
berbagai pemberontakan dipicu ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat. Adanya
banyak partai dan silih bergantinya kabinet pada masa demokrasi liberal
menyebabkan ketidakstabilan politik. Pemilu I (1955); dilaksanakan dua kali, yaitu: tanggal 29 September
1955 untuk memilih anggota DPR dan tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota
Dewan Konstituante.
Pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno
mengeluarkan Dekrit Presiden. Dekrit Presiden itu berisi tentang:
1. pembubaran
Konstituante 3. akan segera dibentuk MPRS dan DPAS
2. berlakunya
kembali UUD 1945
Sebagai tindak lanjut Dekrit 5 Juli
1959, dibentuklah MPRS dan DPAS. DPR hasil Pemilu 1955 tetap dipertahankan. Pada
masa demokrasi terpimpin pemerintah melakukan penyimpangan terhadap UUD 1945. Pada
masa demokrasi terpimpin kekacauan terjadi juga dalam bidang ekonomi. Indonesia
mengalami inflasi dan masyarakat semakin jatuh miskin.
Dalam pergaulan internasional,
Indonesia cenderung dekat dengan negara-negara sosialis- komunis (blok timur).
Indonesia tenggelam atau tersingkir dari pergaulan internasional setelah
melakukan konfrontasi dengan Malaysia dan keluar dari keanggotaan PBB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar